Meski diciptakan sebagai makhluk yang lemah, manusia bisa tegar dan kekar. Tidak ada manusia yang kalah oleh jin kalau ia bersungguh-sungguh dan benar, maka tidak mungkin kalah dengan jin. Sebaliknya, jin atau setan itu bisa dikalahkan oleh manusia. Misalnya, kamu saya imami di sini. Setan menginginkan kalau bisa saya jangan sembahyang. Atau kalau sembahyang maka sembahyangnya dibuat tidak khusyu’, sehingga lafadz yang kita ucapkan salah, atau pikiran melayang, dan tidak hadhirul qolbi. Demikianlah setan itu mengganggu. Menjadi guru pun tidak lepas dari berma cam-macam gangguan setan.
Kenyataannya memang manusia itu mempunyai kekuatan untuk mengalahkan setan. Dan kalau kita sudah menang melawan setan satu kali, menang dua kali, menang berkali-kali, maka lama kelamaan setan itu akan takut sama kita. Seperti kata Baginda Nabi SAW, orang yang paling ditakuti oleh setan (saat itu) ialah ‘Umar bin Khattab.
Pernah suatu hari ada anak-anak sedang bermain di samping rumah beliau dihalau oleh ‘Umar, mereka langsung bubar dan lari terbirit-birit. Rasulullah yang melihat itu dari balik jendela sambil dagunya berada di pundak A‘isyah RA bersabda, “Itulah ‘Umar. Ia ditakuti oleh manusia dan ditakuti oleh setan”.
Maka apapun keadaannya sekarang kita takut saja kepada Allah, agar kita ditakuti setan. Manusia memiliki kekuatan-kekuatan yang maksimal dan minimal untuk dapat memimpin, melawan dan bertahan. Bertahan dalam segala situasi itu artinya tekun, sabar, namun bukan sabar yang pasif, akan tetapi tekun dan sabar yang aktif. Misalnya, tatkala kita dizalimi, kita harus melawan walaupun bukan dengan kekerasan. Kita melawan kezaliman dengan kebaikan kita. Melawan dengan pekerjaan kita. Allah akan memberi petunjuk karena kita sungguh-sungguh dan akan bisa membalik kesan kepada setan-setan itu. Istilahnya di dalam bahasa Jawa, “Becik ketitik olo ketoro” yang artinya “sesuatu yang baik pasti akan terlihat, dan segala yang buruk akan tampak”. Pepatah ini mengandung pesan bahwa kebaikan dan keburukan seseorang akan terungkap atau terlihat seiring perjalanan waktu, cepat ataupun lambat. Oleh karena itu tetaplah bertahan dan berdoa sesuai perintah Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ
Ada Mufti Suriah kemarin menerangkan kepada saya soal kecintaan Allah kepada kita. Apakah Allah itu cinta kepada kita? Tentu cinta. Ini harus kita yakini. Allah menciptakan bagi setiap manusia itu maqom atau tempatnya masing-masing yang Dia kehendaki. Maka sebaiknya kita menerima penempatan itu dengan cara bekerja keras, berpikir keras, bersabar keras, dan berdoa keras, agar tidak merugi. Mengapa? Karena sebetulnya apa yang kita kerjakan itu untuk diri kita sendiri. Kalian mengajar, kalian mendidik, kalian mengurus keuangan, semua usaha dan kesungguhan kalian itu untuk diri kalian sendiri. Man ‘amila sholihan fa-linafsih. Segala perbuatan baik manusia untuk dirinya sendiri.
Sembahyang juga untuk kemaslahatan manusia, meskipun karena Allah SWT (lillah). Ingat, bukan untuk Allah, tetapi karena Allah, sehingga kita berbuat baik itu mulai dengan menyebut nama-Nya: bismillahirrahmaanirrahiim, dengan nama Allah, lillahi ta’ala dan karena Allah. Dengan kita berbuat baik dan melakukan bermacam-macam gerakan kebaikan, dari munajat sosial, ekonomi dan budaya, dan lain sebagainya itu kita akan menjadi kuat. Kuat dari segi pendidikan, perekonomian, kemasyarakatan, politik, semuanya kuat.
Maka kita ini harus mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk dakwah. Kita berdakwah itu wajib bil-hal dan bighairil-hal. Dakwah bil-hal artinya dengan materiil. Kekuatan itu bagaikan air yang bila kita tuang ke dalam gelas dan kita letakkan di tempat yang baik, maka molekul-molekul yang terkandung di dalam air itu juga akan ikut berubah menjadi baik. Benar kata Rasulullah, segelas air yang dibacakan surat al-Fatihah akan berubah menjadi baik. Artinya air itu bisa menjadi obat, dan itu boleh. Maka air, udara, dan benda- benda itu semua memiliki kekuatan. Kekuatan itu dari manusia, karena yang menghisap udara itu manusia, yang meminumnya dan menyentuhnya juga manusia, yang dijadikan oleh Allah sebagai khalifah fil–ardhi. Tumbuh-tumbuhan itu diciptakan untuk makanan manusia. Ikan di laut juga diciptakan untuk dimakan oleh manusia. Dan manusia diciptakan di dunia dan diberikan kekuatan oleh Allah sangat dahsyat, bukan otak saja.
Otak manusia banyak salah karena nafsu. Manusia mau ini dan itu apa saja ia kerjakan, walaupun buruk dan fatal akibatnya. Maka Allah memberikan manusia itu agama, untuk menjadi petunjuk yang sangat dan paling dahsyat. Sekarang tinggal bagaimana manusia dapat memahami agama dengan baik dan benar. Banyak manusia yang keliru dalam memahami agama. Banyak yang salah paham karena tidak dengan ilmu, bodoh dan berlebihan dalam beragama. []






















