Gontor itu adalah nama desa yang terdiri dari dua kata, yaitu “Nggon” (artinya tempat) dan “kotor”. Kotor di sini bukan berarti banyak sampah atau tidak bersih, akan tetapi kotor di sini maksudnya ialah dahulu banyak penduduk Desa Gontor ini yang berbuat maksiat. Yaitu molimo, seperti bermain judi, main perempuan (berzina) dan lain sebagainya. Itulah maksudnya “kotor” itu.
Selanjutnya, berkenaan dengan sejarah Pondok Modern Gontor Ponorogo sebelum tahun 1926. Gontor ini didirikan oleh tiga bersaudara yaitu KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannani dan KH Imam Zarkasyi.
Pondok Gontor ini sudah ada lebih dahulu yaitu Gontor lama. Yaitu pada abad ke-18. Konon di abad ke-18 di Ponorogo ini ada sebuah pondok besar yaitu Tegalsari. Letaknya kurang lebih 2,5 km dari Desa Gontor. Kiainya yang masyhur bernama Kiai Hasan Besari. Beliau mempunyai menantu yang namanya Sulaiman Djamaluddin, yang berasal dari Cirebon dan diutus oleh Kiai Hasan Besari untuk mengembangkan Tegalsari sampai di Gontor dengan dibekali 40 orang santri. Alhamdulillah perkembangan Gontor mengalami kemajuan di bawah pimpinan Kiai Sulaiman Djamaluddin.
Kemudian berlanjut ke periode kedua yakni Kiai Arham Anom Besari. Pada periode kedua inilah Gontor lama mengalami kemajuan yang sangat pesat. Selanjutnya pada periode ketiga adalah putra beliau Kiai Santoso Anom Besari. Yaitu bapak daripada Trimurti yang mendirikan Pondok Modern Gontor ini. Di periode yang ketiga inilah Gontor lama mulai surut disebabkan kurangnya kaderisasi. Ditambah lagi Kiai Santoso Anom Besari wafat pada usia yang masih muda.
Putra-putri beliau masih kecil dan tidak ada saudara-saudara beliau yang mampu melanjutkan kepemimpinan pondok ini. Bisa dikatakan Gontor lama mati pada periode yang ketiga ini, yakni periode setelah wafatnya Kiai Santoso Anom Besari.
Kemudian pada tahun 1926, KH Ahmad Sahal beserta kedua adiknya, KH Zainuddin Fannani dan KH Imam Zarkasyi, bertekad bulat untuk mendirikan Pondok Modern Gontor. Asal mulanya pondok tersebut dinamai Pondok Darussalam Gontor. Kemudian oleh masyarakat dijuluki “modern” dan disebut Pondok Modern Darussalam Gontor setelah pada tahun 1936 KMI didirikan.
Alhamdulillah perkembangan Gontor dari tahun 1926 mengalami kemajuan sampai tahun-tahun sesudahnya, meskipun mengalami berbagai hambatan. Di antaranya, terjadinya perang antara Belanda dan Jepang untuk memperebutkan Indonesia pada tahun 1942. Kemudian peperangan pemuda-pemuda Indonesia untuk meraih kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Di tambah lagi adanya pemberontakan PKI yakni peristiwa Madiun pada tahun 1948.
Walaupun adanya beberapa peristiwa di negara dan daerah kita ini, ternyata Gontor tetap selalu berkembang. Sampailah pada tahun 1963 waktu itulah saya (KH Syamsul Hadi Abdan) masuk ke Gontor. Bersamaan pada waktu itu, Gontor ini telah menambah tingkat pendidikannya yaitu membuka Perguruan Tinggi Darussalam. Dahulu namanya PTD (Perguruan Tinggi Darussalam). Kemudian diubah menjadi IPD dan akhirnya sekarang menjadi ISID (Institut Studi Islam Darussalam).
Bagaimana Gontor pada tahun 1963? Di tengah beberapa kemajuan di Gontor, sarana dan prasarana pendidikan di Gontor masih sangat kurang. Tetapi itu semua tidak mengurangi kesungguhan anak-anak di dalam belajar. Sebagai contoh adalah tentang fasilitas MCK. Pada waktu itu pondok belum bisa memfasilitasi dan menyiapkan kamar mandi, toilet dan lain sebagainya. Maka pada tahun-tahun itu masih banyak santri yang berkeliaran mandi di rumah-rumah penduduk desa.
Kemudian dari segi yang lain, bangunan juga masih sangat sederhana. Banyak bangunan yang sifatnya masih darurat. Ada kelas yang betul-betul lantainya tanah. Ada juga yang sudah agak baik pakai tegel. Itu dari segi pergedungan, masih banyak kelas-kelas yang sifatnya masih darurat.
Apalagi kalau melihat daripada alat-alat sekolah, itu jauh berbeda dibandingkan dengan sekarang. Seperti contohnya buku-buku yang dipakai dalam belajar mengajar. Sangat sedikit sekali buku yang sudah dicetak. Sepeti tarikh adab, tarbiyah, bidayatul mujtahid, fiqih, balaghah dan lain sebagainya.
Para santri masih menulis dengan tangan mereka sendiri. Yang memiliki buku cetak hanyalah ustadz saja. Akhirnya buku-buku tersebut ditulis oleh para santri sebelum mereka mempelajari kitab tersebut. Itulah dari segi buku-buku atau alat belajar, masih sangat kurang sekali. Belum banyak buku-buku yang dicetak. Kalau sekarang, sudah banyak sekali bahkan hampir semuanya sudah tercetak. Pada zaman dahulu masih ditulis dengan tangan dari satu santri ke yang lain. []






















