Tangerang Selatan, Gontornews — Sekitar 19 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengunjungi Sekolah dan Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin Tangerang Selatan. Kunjungan pada Ahad (11/10/2026) itu merupakan bagian dari kegiatan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) IQT UNIDA Gontor di Jabodetabek.
Pada kesempatan tersebut, para peserta SPL IQT UNIDA Gontor memperoleh wawasan tentang peyelenggaraan Pendidikan Al-Qur’an bagi tunanetra. Mereka juga mendapatkan pengalaman menyaksikan Al-Qur’an Braille yang menjadi media pembelajaran bagi kaum disabilitas itu.
Dosen pembimbing SPL IQT UNIDA Gontor, Dr Elit Ave Hidayatullah SThI MUs, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan akademik mahasiswi. Menurutnya, mahasiswa pengkaji Al-Qur’an tidak terbatas pada pengembangan pemahaman tekstual tapi juga berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta realitas sosial.
“Termasuk kehidupan penyandang disabilitas netra dalam mengakses pendidikan dan mempelajari Al-Qur’an,” ungkap Dr Elit Ave Hidayatullah dalam rilisnya kepada Gontornews.com.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Yayasan Raudlatul Makfufin Tangerang Selatan, Ade Ismail SPd, memperkenalkan lembaga yang ia pimpin dan kelola. Ustadz Ade, sapaan akrabnya, juga mendampingi para peserta SPL IQT UNIDA Gontor saat mengamati ‘santri disabilitas netra’ di Yayasan Raudlatul Makfufin menggunakan mushaf Braille.
Sebagai informasi, Yayasan Raudlatul Makfufin Tangerang Selatan menyediakan mushaf Al-Qur’an Braille bagi penyandang tunanetra. Yayasan yang memiliki slogan ‘Tiada Mata Tak Hilang Cahaya’ itu juga mengembangkan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif bagi santrinya.
“Meskipun sebagian besar santri datang dengan kemampuan membaca Al-Qur’an yang masih sangat dasar, terdapat santri yang telah berhasil menghafal hingga delapan juz Al-Qur’an,” ungkap Ustadz Ade.
“Artinya, keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk mempelajari, menghafal, dan mendalami Al-Qur’an apabila didukung oleh akses pendidikan dan metode pembelajaran yang sesuai,” sambungnya.
Selain Dr Elit Ave Hidayatullah, Ustadzah Rezki Kaulan Maisurah MPdI dan Ustadzah Dzatu Aliviatin Nuha MAg. berkenan sebagai dosen pembimbing kegiatan yang bertajuk ‘Menghadirkan Al-Qur’an bagi Semua: Pembelajaran Braille dan Pengalaman Qur’ani Penyandang Tunanetra’ tersebut.
Salah seorang peserta SPL IQT UNIDA Gontor, Akhtar Razana, mensyukuri kegiatan kunjungan ke Raudlatul Makfufin Tangerang Selatan. Menurutnya, keterbatasan pengelihatan bukan penghalang untuk bertinteraksi dengan Kalamullah.
“Kami melihat bagaimana Al-Qur’an dapat diakses, dibaca, dan dihafalkan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pengalaman ini mengajarkan kami untuk lebih menghargai perjuangan penyandang tunanetra dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an,” ungkapnya kepada Gontornews.com.
Melalui kegiatan ini, mahasiswi IQT UNIDA Gontor diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai pengembangan kajian tafsir sains dan sosial, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Pengalaman tersebut diharapkan mendorong mahasiswi untuk mengembangkan kajian tafsir yang kontekstual, kritis, dan inklusif, sekaligus menyadari pentingnya menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam upaya mewujudkan pendidikan Islam yang berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan umat. [Mohamad Deny Irawan]
























