Lombok Utara, Gontornews — Kunjungan akademik dalam rangka pelaksanaan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Program Studi Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kembali digelar. Kali ini, 47 mahasiswi semester enam melaksanakan SPL ke Masjid Kuno Beleq Adat Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan itu pun didampingi oleh dua dosen pembimbing, yaitu Ustadz Dr Hifni Nasif SThI MAg dan Ustadz Mohammad Djaya Aji Bima Sakti MAg.

Studi Pengayaan Lapangan merupakan salah satu program akademik yang bertujuan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa melalui kegiatan observasi, pengamatan, dan kajian terhadap objek penelitian di lapangan. Selain memperluas wawasan keilmuan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menyusun tugas akhir berupa skripsi. Dalam pelaksanaannya, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dipilih sebagai lokasi kajian untuk mendukung proses pembelajaran dan pengembangan penelitian mahasiswa.
Masjid Kuno Adat Bayan merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam yang penting di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Masjid ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat Bayan.
Keberadaannya memperlihatkan bagaimana ajaran Islam berkembang dan berinteraksi dengan adat istiadat masyarakat Sasak di Lombok. Setiap tahun, upacara adat diselenggarakan disini guna memperkuat ikatan antara budaya Sasak dan nilai-nilai spiritual Islam.
Raden Falahsari, pemandu wisata menjelaskan, “Ada sejumlah versi terkait sejarah berdirinya Masjid Kuno Bayan Beleq.” Dilansir gontor.ac.id, sang pemandu menambahkan bahwa salah satu versi menyebutkan masjid kuno tersebut berdiri ketika pengikut Sunan Kalijaga yang bernama Sunan Pengging datang ke Lombok. Masjid Bayan Beleq kemudian dibangun oleh seorang penghulu bernama Titi Mas Penghulu. Dia merupakan orang pertama yang memeluk agama Islam di Bayan.
Versi lainnya mengatakan, lanjut Raden Falah, bahwa yang membangun masjid ini Syaikh Gaus Abdul Razak, salah seorang penyebar agama Islam di Bayan. Menurut versi ini, Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun sekitar abad ke-16.
“Bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq tidak difungsikan sebagai masjid pada umumnya. Masjid ini hanya digunakan saat perayaan Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, dan kegiatan besar keagamaan lainnya,” ujarnya.
Kegiatan ini menjelaskan tentang sejarah Masjid Kuno Bayan Beleq yang merupakan warisan budaya Islam yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Bayan, Lombok Utara. Keunikan arsitektur, penggunaan bahan-bahan tradisional, serta pelaksanaan berbagai macam ritual agama mencerminkan eratnya hubungan antara budaya, agama, dan identitas masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu Masjid Kuno Bayan Beleq butuh pelestarian dan perhatian dari pemerintah dan masyarakatnya agar terbudidaya dan tidak tergurus oleh perkembangan zaman. []
























