Wellington, Gontornews — Kepala Hak Asasi Manusia Selandia Baru, Paul Hunt, meminta kepada kerajaan agar meningkatkan inklusivitas terhadap komunitas Muslim di Selandia Baru. Menurutnya, penindasan terhadap komunitas Muslim di berbagai lembaga pemerintah terlalu luas.
Sementara itu, mantan komisioner hubungan ras, Joris De Bres, menolak untuk memberikan bukti kepada komisi kerajaan pada bulan Juni lalu. Mereka mengkhawatirkan sebuah rahasia yang mengenyampingkan umat Muslim.
“Saya harus menyesal menolak untuk berpartisipasi dalam proses hingga saya meyakini bahwa hal tersebut transparan serta menempatkan keluarga korban pembantaian 15 Maret 2019, organisasi, yang menaunginya, serta masyarakat untuk mempertanyakan sekaligus menantang informasi yang diberikan oleh lembaga pemerintahan yang tengah melakukan penyelidikan,” kata De Bres sebagaimana dilansir Reuters.
Sementara itu, advokat kelompok Muslim, Guled Mire, mengaku telah mendapatkan undangan kerajaan untuk bergabung dengan komunitas Muslim yang dibentuk oleh pihak kerajaan. Namun, Mire, mengundurkan diri tidak lama setelah ia merasa bahwa pihak kerajaan tidak mendegarkan aspirasi umat Muslim di Selandia Baru.
“Mereka mengabadikan sikap dan perilaku yang seperti kejadian pada 15 Maret yang lalu. Pada dasarnya mereka mengabaikan pengalaman hidup kita, tidak menghargai apa yang harus kita katakan dan benar-benar tidak mau terlibat dalam persyaratan yang kita ajukan,” kata Mire.
“Komisi tidak melakukan apa yang saya sebut sebagai bentuk keterlibatan tokenistik,” tambah Mire.
Pakeeza Rasheed juga diundang untuk bergabung dengan kelompok tetapi mengatakan dia tidak merasa nyaman untuk berpartisipasi setelah Komisi tidak menanggapi sejumlah pertanyaan yang dia miliki tentang proses apa yang akan terjadi.
“Kami juga terus bertemu secara pribadi dengan kelompok dan individu dan kami berhubungan dengan lebih banyak lagi melalui telepon, surat elektronik dan apa pun yang disukai mereka,” kata seorang juru bicara dalam tanggapan melalui surat eletronik kepada Reuters.
“Kami memahami mungkin ada beberapa anggota Kelompok Referensi Komunitas Muslim yang mungkin memutuskan prosesnya bukan untuk mereka dan itu tidak apa-apa.”
Sementara itu, Ambreen Naeem, yang suaminya Naeem dan putra tertua Talhawere terbunuh di Masjid Al Noor, menghubungi komisi melalui email dan dikunjungi oleh komisaris utama pada bulan Juli.
Ambreen menyambut baik kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, termasuk tentang seberapa serius ancaman kekerasan terhadap Muslim menjelang terjadinya penembakan brutal tersebut.
“Semua orang membuat kesalahan, jika mereka melakukan kesalahan kita akan mengerti, tetapi kita perlu tahu,” kata Ambreen, yang mencoba membangun kembali kehidupan untuk dirinya sendiri dan dua putra yang masih hidup. [Mohamad Deny Irawan]



















