Jakarta, Gontornews — Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid punya kenangan sendiri terhadap sosok BJ Habibie. Selain teknokrat dan ilmuwan kelas dunia, Habibie adalah negarawan dan ekonom yang berhasil membuat lompatan penguatan rupiah yang tiada tara.
“Bayangkan, dalam waktu satu tahun rupiah dapat menguat dari sekitar 17.000-an menjadi 6.500 per dolar. Rektor belum lagi dicapai oleh pemerintahan setelahnya. Kita patut bersyukur atas kontribusinya yang luar biasa,” tegas HNW
Habibie juga dikenang sebagai pelopor kebebasan pers dan pahlawan demokrasi. Habibie yang mencairkan ketegangan poitik diantara tokoh-tokoh besar Indonesia. Tokoh ICMI ini juga pembebas para tahanan politik. “Penjara hanya untuk pelaku kriminal, bukan hukuman perbedaan pendapat,” ucap Habibie.
Presiden RI ke-3 BJ Habibie tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto pada usia 83 tahun. Kabar soal meninggalnya BJ Habibie disampaikan oleh Kepala RSPAD Dr Terawan, Rabu (11/9/2019). “Benar, pukul 18.05 WIB,” ujarnya. Sosok yang satu ini punya peran penting dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Ia merupakan seorang insinyur yang berhasil membuat pesawat terbang yang diakui dunia. Selain itu, keahlian teknologinya itu membuatnya dekat dengan pemerintah dan akhirnya ia menjabat sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia pada 21 Mei 1998. Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada 14 Maret 1998. Namun kerusuhan dan gejolak politik yang berpusat di Jakarta akhirnya menggulingkan Presiden Soeharto, yang telah berkuasa selama 32 tahun. Setelah lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998, Habibie pun otomatis diangkat menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia. Meski masa jabatannya terhitung singkat, Habibie berhasil menerapkan beberapa terobosan di Indonesia, seperti Undang-Undang Antimonopoli, Undang-Undang Partai Politik, dan Undang-Undang Otonomi Daerah. Dari sektor ekonomi, Habibie berhasil mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap dolar, yang awalnya berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 17 ribu per dolar AS menjadi Rp 6.500 pada akhir pemerintahannya.
Hal ini bisa terjadi lantaran Habibie konsisten pada kebijakan keuangan. Kala itu, Habibie yang mengikuti tren global, yang menerapkan sistem pasar terbuka untuk valuta asing. Habibie mematok nilai tukar rupiah pada Rp 8.000. Konsistensi Habibie ini ternyata berhasil menekuk dolar AS hingga di level yang cukup rendah, yakni Rp 6.500. Hal itu terungkap dalam laporan pertanggungjawaban MPR pada akhir periode jabatannya.[ajnn/dj]





















