Harare, Gontornews — Pemerintah Zimbabwe memecat lebih dari 200 dokter, Jum’at (08/11). Pemecatan ini dilakukan karena para dokter melakukan mogok kerja lebih dari dua bulan menuntut agar mereka mendapatkan kenaikan gaji.
Presiden Emmerson Mnangagwa memerintahkan jajarannya untuk melakukan tindakan keras atas kegaduhan tersebut. Sementara itu, pejabat publik di sektor lain tidak dapat pergi bekerja karena mereka tidak memiliki uang seiring inflasi hebat yang mendera Zimbabwe.
Reuters melansir bahwa dokter yang bekerja di rumah sakit miilk pemerintah Zimbabawe telah mogok sejak 3 September yang lalu. Mereka ingin gaji yang dikonversi dengan mata uang Dollar Amerika Serikat untuk menghentikan inflasi yang menghantam mata uang mereka.
Para dokter menentang keputusan pengadilan tersebut yang menyatakan perbuatan mereka ilegal dan meminta mereka untuk kembali bekerja. Akibatnya, banyak pasien ditolak rumah sakit karena ketiadaan dokter yang bertugas merawat mereka.
Badan Layanan Kesehatan mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan rapat dengar pendapat dengan 213 dokter. Alhasil, 211 dokter dinyatakan bersalah karena absen dari pekerjaan karena alasan yang tidak tepat. Dewan juga akan memanggil 516 dari 1.601 dokter pemerintah untuk mengikuti sidang indispliner.
Sementara itu, Juru bicara asosiasi Dokter Rumah Sakit Zimbabwe, Tawanda Zvakada, belum bisa memberikan komentar terkait pemecatan tersebut. Sebelumnya, asosiasi menuduh pemerintah melakukan intimidasi kepada para dokter.
Secara umum, Warga Zimbabwe menanggung beban krisis ekonomi terburuk dalam satu dekade terakhir. Krisis ekonomi diperburuk dengan bencana kekeringan yang menyebabkan setengah populasi Zimbabwe membutuhkan bantuan makanan. [Mohamad Deny Irawan]


















