Buka Town, Gontornews — Terhitung sejak Rabu (11/12), sebuah pulau di Samudera Pasifik sebelah Selatan yaitu Kepulauan Bougainville resmi menjadi sebuah negara yang sah dari Papua Nugini.
Ada sejumlah catatan mengenai negara baru ini sebagaimana dilansir Reutes. Berikut beberapa fakta menarik tentang Kepualuan Bougainville:
- Baku Town di Pulau Bukan merupakan ibu kota negara Bougainville dan merupakan lokasi sejumlah kantor pusat pemerintahan;
- Sekitar 300.000 warga tinggal di Kepulauan Bougainville seperti di Buka dan dua kota utama Bougainville lain yaitu: Arawa dan Buim. Berdasarkan sensus 2011, populasi penduduk Bougainville mencapai 249.358 jiwa;
- Menurut kepala referendum, Mauricio Claudio, lebih dari 200.000 warga terdaftar sebagai peserta referendum kemerdekaan Bougainville;
- Sebagian besar warga Bougainville merupakan ras Melanesia dengan Tok Pisin dan bahasa Inggris Papua Nugini, Pidgin sebagai bahasa komunikasinya. Meski demikian, ada sekitar 19 bahasa asli masyarakat Bougainville.
- Pemberian nama Pulau Bougainville dinisbahkan kepada seorang navigator asal Perancis, Louis Antoine de Bougainville yang berlayar di sepanjang pantai Timur pada 1768;
- Pada abad ke-19, Bougainville dijajah oleh Jerman. Setelahnya, Jepang menjadikan pulau tersebut sebagai pangkalan militer selama Perang Dunia kedua. Setelah itu, pulau ini dikelola oleh Australia sebelum akhirnya Papua Nugini memperoleh kemerdekaan pada 1975 dan berhak untuk menguasasi pulau tersebut.
- Pulau Bougainville dikenal sebagai penghasil tembaga raksasa dunia. Tambang tembaga di Panguna dibuka oleh Bougainville Copper Limited (BCL) pada 1969. BCL merupakan anak perusahaan sumber daya Rio Tinto;
- Akan tetapi, pembagian keuntungan hasil tambang yang tidak jelas, memaksa Rio Tinto untuk meninggalkan Bougainville pada 1989 di tengah meningkatkan eskalasi perang saudara. Sejak saat itu, Bougainville menjelma menjadi salah satu pemasukan negara terbesar bagi Papua Nugini dengan menyumbang 7 persen kebutuhan tembaga global;
- Sebanyak 20.000 orang tewas dalam perang saudara antara pasukan geriliyawan pemberontak Bougainville dan pasukan militer Papua Nugini. Perang saudara ini berakhir pada 1998 dan menjelma sebagai konflik terburuk yang pernah terjadi di kawasan Oseania pasca perang dunia kedua;
- Lembaga penelitian berbasis di Australia, Lowy Institute, memprediksi ketidakpastikan tentang bagaimana cara Baougainville untuk “menghidupi dirinya sendiri” karena saat ini, pendanaan serta kebutuhan negara ditanggung sepenuhnya oleh Papua Nugini.
[Mohamad Deny Irawan]


















