Jakarta, Gontornews — Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan teknologi Smart Cable Technology (SCT) guna memperkuat operasi peringatan dini tsunami.
Kepala BPPT, Hammam Riza, menyampaikan bahwa fakta dua musibah tsunami pada 2018, Palu dan Selat Sunda, sebagai Pemerintah Indonesia berkonsentrasi untuk menggunakan sebuah inovasi dan teknologi mutakhir demi mengantisipasi bencana tsunami.
“Yang pertama adalah pentingnya Indonesia memiliki sistem peringatan dini tsunami yang andal. Dan yang kedua, Indonesia tidak hanya terancam oleh bencana yang berbasis tektonik namun juga non-tektonik,” ungkap Hammam Riza sebagaimana dilansir bppt.go.id.
“Kedua tsunami itu memang tidak biasa. Kejadian ini tentu saja mendorong Pemerintah Indonesia mengamanatkan kepada BPPT untuk mengembangkan peralatan pendeteksi tsunami,” imbuh Hammam.
Untuk merealisasikan SCT, Indonesia melakukan kerjasama internasional dengan Amerika Serikat.
Lebih lanjut, Hammam menjelaskan bahwa tsunami dapat dipahami, diamati dan diprediksi sebelum mencapai pantai.
“Lautan yang aman bukanlah lautan di mana tsunami tidak terjadi. Tapi lautan di mana tsunami dapat dipahami, diamati dan dampaknya diprediksi secara akurat sebelum mereka (tsunami) mencapai pantai.”
“Lautan di mana mereka hidup, bekerja dan menciptakan kembali di sepanjang pesisirnya ‘dipersenjatai’ dengan pengetahuan dan siap bertindak sebelum tsunami menerjang,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah melalui Peraturan Presiden telah mengeluarkan Perpres nomor 93/2019 tentang penguatan dan pengembangan sistem informasi peringatan gempa dan tsunami.
BPPT menganggap bahwa SCT mampu bertahan lama dan kuat. Pun denga pemeliharaannya tidak sulit dan terlindung dari guncangan yang biasa terjadi pada permukaan laut.
“BPPT sadar bahwa mengembangkan sistem seperti itu, membutuhkan konsistensi dan komitmen berkelanjutan dari pemerintah. Karena mungkin memerlukan waktu 10 hingga 20 tahun,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]





















