Johannesburg, Gontornews — Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Rabu (10/2/2021), mengatakan pemerintah akan mulai memvaksinasi petugas kesehatan dengan vaksin Covid-19 buatan Johnson & Johnson.
Keputusan ini diambil hanya beberapa hari setelah pemerintah menunda peluncuran vaksin AstraZeneca. Penundaan terjadi setelah masuknya data dalam uji klinis yang menunjukkan bahwa vaksin tersebut tidak melindungi pasien dari gejala ringan hingga sedang dari varian 501Y.V2 yang menyebar dengan cepat di Afrika Selatan.
“Mengingat hasil dari studi efikasi, Departemen Kesehatan akan melanjutkan vaksinasi tahap pertama yang menargetkan petugas kesehatan dengan menggunakan vaksin Johnson & Johnson sebagai ganti AstraZeneca,” kata Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Zweli Mkhize, kepada Reuters.
“Vaksin J&J telah terbukti efektif. Peluncuran program vaksinasi akan berlanjut dalam bentuk studi implementasi dengan kemitraan antara Medical Research Coucil dan Departemen Kesehatan Nasional,” imbuhnya.
Mkhize menambahkan penasihat kesehatan akan memberikan pandangan tentang penggunaan vaksin AstraZeneca pekan depan. Sejauh ini, opsi menjual vaksin AstraZeneca menjadi pilihan. Kata Mkhize.
Selain J&J dan AstraZeneca, Mkhize menjelaskan bahwa pemerintah tengah melakukan pembicaraan dengan Pfizer dan Moderna.
Dalam uji coba klinis, vaksin J&J memiliki efikasi sebesar 89 persen untuk mencegah gejala parah dan 57 persen untuk melawan gejala ringan di Afrika Selatan. Afrika Selatan pun melansir bahwa 95 persen kasus yang terjadi belakangan berasal dari varian 501Y.V2 yang baru teridentifikasi pada akhir tahun 2020 silam.
Para ahli kesehatan mengkhawatirkan varian 501Y.V2 karena mampu menyebar dengan sangat cepat. Mereka pun mengkhawatirkan pula kemampuan varian virus korona tersebut terhadap kekebalan yang muncul dari paparan vaksin. [Mohamad Deny Irawan]
























