Stockholm, Gontornews — Pemerintah Swedia, Senin (04/07/2023), kembali menegaskan bahwa aksi pembakaran Al-Qur’an berdampak buruk terhadap citra negara. Menteri Luar Negeri Swedia Tobias Billstrom menegaskan bahwa aksi tersebut dapat mengubah citra baik negara di mata dunia. Karenanya, Billstrom menyebut pemerintah sedang berjuang untuk menyelamatkan reputasinya pascainsiden islamofobia tersebut.
“Citra baik Swedia akan berubah dalam jangka panjang jika terus melakukan aksi Islamofobia. Sulit untuk memprediksi konsekuensinya, terutama, saat ratifikasi kenanggotaan NATO Swedia sedang berjalan. Sektor pertahanan juga penting,” kata Billstrom tidak lama setelah Turki keberatan tentang ratifikasi keanggotaan NATO untuk Swedia.
“Pemerintah Swedia memahami bahwa tindakan islamofobia oleh seseorang demonstran di negara itu dapat menyinggung umat Islam. kami mengutuk keras tindakan ini yang tidak mencerminkan pandangan pemerintah Swedia dengan cara apa pun,” sambungnya sebagaimana dilansir Anadolu.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Swedia menegaskan bahwa negaranya tidak menolerir keberadaan rasisme, xenofobia dan intoleransi. Kementerian tidak segan menyebut bahwa tindakan pembakaran Al-Qur’an di dekat masjid raya Stockholm itu sebagai tindakan provokatif.
“Di Swdia, kebebasan berekspresi mendapatkan perlindungan yang kuat. Namun, tentu saja, itu tidak berarti pemerintah mendukung setiap pendapat yang dilontarkan. Pertemuan publik yang legal pun dapat menyebabkan polarisasi dan bersifat ofensif,” kata Kementerian.
“Demonstrasi yang diadakan pada hari Rabu seperti itu. Demonstrasi itu juga memiliki konsekuensi serius bagi keselamatan dan keamanan internal Swedia,” tambah Kementerian menutup. [Mohamad Deny Irawan]






















