Sumenep, Gontornews — Dalam rangka Peringatan 64 Tahun Pondok Pesantren al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, panitia menggelar seminar internasional membahas tentang Masa Depan Umat Islam: Antara Peluang dan Tantangan, di Pondok Pesantren al-Amien Prenduan, Selasa (8/11).
Seminar yang digelar Gedung Serba Guna (GESERNA) TMI al-Amien Putri, itu menghadirkan para cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu. Mereka di antaranya: Director of Malay Studies National University of Singapore (NUS) Dr Azhar Ibrahim Alwee MA, Deputy Rector (Academic and Research) Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor (KUIS) Malaysia Dr Mokmin bin Basri MSc, Rektor Jamiah Islam Syaikh Daud Al-Fathani (JISDA) Yala Thailand yang juga karib dari Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Amien Prenduan sewaktu kuliah di al-Azhar University Kairo Mesir Dr Abdulrashid Abdullah Hameeyae, dan Dr Sulaiman Hasan Sulaiman dari University of Tripoli Libya.
Dr Mokmin Basri dalam makalah Globalization- Muslim Future Opportunities and Challenges from Technological Prespective mengatakan, kita perlu menciptakan dan membuat globalisasi kita sendiri, ekonomi sendiri, dan ilmu pengetahuan sendiri. Dan semua itu hanya bisa ditemukan di pondok pesantren.
Sedangkan Dr Abdulrashid Abdullah Hameeyae menuturkan sejarah dibangunnya pendidikan Islam di Thailand selatan (Patani) yang menganut sistem pendidikan pondok pesantren. Ia juga membeberkan pengalaman Dr H Harun Muhammad Thahir membangun pendidikan Islam di Thailand serta langkah-langkah Mudir Haji Harun Yala merekonstruksi pendidikan Islam. “Semoga dakwah almarhum untuk menciptakan sebuah pendidikan Islam di negara yang penduduknya minoritas Muslim itu dapat berkembang dengan baik,” ujarnya.
Sedangkan Dr Azhar Ibrahim PhD memberikan pernyataan yang membuat para peserta seminar memberikan tepuk tangan yang meriah. “Globalisasi adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Untuk itulah diperlukan keberanian untuk merespon. Bukan justru lari menjauhi, apalagi menghindarinya dengan mengkritik, mencela, atau bahkan mencaci maki.”
Langkah untuk meresponnya, paparnya, bukan sekedar defensif (bertahan), akan tetapi ofensif, bahkan juga mesti progresif. “Umat Islam mesti memberikan perlawanan pada kapitalisme yang sama sekali tidak mengenal sepadan, sederajat. Dan perlawanan kita adalah dengan mencari solusi dan memberikan kontribusi yang baik sesuai dengan ajaran Islam,” tandasnya.
Pada kesempatan itu Pondok Pesantren al-Amien menandatangani kesepakatan kerjasama dengan pihak-pihak di dalam negeri maupun luar negeri. Juga telah dilantik Dewan Pengurus Dosen Antarbangsa Daerah Jawa Timur di Pondok Pesantren al-Amien. [Fathurroji/Rus]




















