Sydney, Gontornews — Lembaga Sains Nasional Australia, Kamis (2/4), mengatakan pihaknya telah memulai tahap pertama pengujian vaksin COVID-19. Australia bersama sejumlah negara di dunia tengah berlomba menciptakan vaksin guna menghentikan pandemi COVID-19.
Pengujian praklinis yang dilakukan oleh Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO). Lembaga tersebut tengah menguji coba dengan menyuntikkan dua vaknis COVID-19 terhadap musang. Mereka melakukannya di fasilitas biosekuritis penyimpanan tinggi di Melbourne.
Untuk pengujian pertama ini, para peneliti membutuhkan waktu sekitar 18 bulan. Direktur CSIRO, Rob Grenfell mengatakan bahwa setiap vaksin yang dihasilkan belum akan tersedia setidaknya hingga akhir tahun depan.
“Kami masih berpegang teguh pada 18 bulan dan optimis bahwa vaksin ini bisa digunakan oleh konsumen umum,” kata Grenfeel kepada Reuters.
“Sekarang ini, tentu saja, bisa berubah. Ada banyak tantangan teknis yang harus kita lalui,” tambahnya.
Grenfell menambahkan sejumlah ilmuwan tengah bekerja dengan kecepatan luar biasa untuk menemukan vaksin COVID-19. Mereka bahkan sudah sampai tahapan pengujian pra-klinis hanya dalam waktu delapan minggu saja. Umumnya, para peneliti bisa menghabiskan waktu dua tahun sebelum masuk ke pengujian praklinis.
Sementara untuk pengujian kepada manusia, Grenfell berharap bahwa pengujian bisa dilaksanakan mulai akhir bulan ini atau awal bulan depan.
Pada bulan Februari lalu, musang bereaksi terhadap virus korona yang menghinggapi sel-sel pernapasan manusia.
“Jika kita dapat menghentikan virus pada reseptor ferret dalam sistem pernapasan, ada peluang bahwa vaksin ini akan bekerja juga pada manusia,” kata Grenfeell.
Selain Australia, Amerika Serikat juga telah membuat kesepakatan dengan Moderna dan Johnson & Johnson untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar. Pun Israel juga telah melakukan uji coba prototipe vaksin COVID-19 pada hewan pengerat di laboratorium bio-kimia, Selasa (31/3).
Beberapa petugas kesehatan di Australi pun tengah memasuki percobaan untuk melihat apakah vaksin tuberkolosis dapat bereaksi pada COVID-19. [Mohamad Deny Irawan]























