Madrid, Gontornews — Saat seorang turis Jerman terkonfirmasi COVID-19 di La Gomera, Kepulauan Canary, Spanyol, tidak ada masyarakat yang khawatir dengan itu. Kini, segalanya semakin memburuk di Spanyol. Kasus kematian akibat COVID-19 di Spanyol pun melampaui Cina, tempat virus mematikan ini muncul pertama kali di dunia.
Celakanya, pasokan alat pelindung diri (APD) bagi para dokter dan tenaga kesehatan di Spanyol terkendala. Walhasil, banyak dokter dan tenaga medis menggunakan kantong sampah plastik sebagai pakaian pelindung diri selama bertugas merawat pasien COVID-19.
Akibat minimnya pasokan APD, sekitar 15.000 tenaga medis dan dokter tidak dapat bertugas menangani pasien COVID-19. Artinya, 14,7 persen kasus penularan COVID-19 berasal dari kalangan dokter dan tenaga medis. Ibukota Spanyol, Madrid, menjelma menjadi wilayah paling terdampak COVID-19 dengan lebih dari 9.000 kematian dan menginfeksi 100.000 kasus penularan.
Temuan ini menjadi yang terparah daripada Italia yang melaporkan kurang dari 10 persen kasus COVID-19 dari kalangan medis. Di Catalonia, satu dari tiga tenaga medis divonis positif COVID-19. Akibatnya, mereka pun terpaksa menyingkir dan mengisolasi diri.
Terkait kendala ini, serikat pekerja medis di Spanyol menuntut 10 dari 17 wilayah Spanyol ke Pengadilan. Mereka menuntut pemerintah setempat menyediakan APD lengkap bagi dokter dan tenaga medis dalam 24 jam ke depan.
Pengadilan regional di Catalonia menolak tuntutan serikat pekerja medis terkait kelengkapan APD dalam 24 jam ke depan. Namun, pengadilan mengatakan bahwa pihak berwenang akan memberikan langkah-langkah perlindungan bagi setiap peralatan yang datang.
Menteri Kesehatan Spanyol, Salvador Illa, mengatakan semua perusahaan penyedia peralatan medis kewalahan dalam melayani konsumen. Namun, ia memastikan bahwa Kementerian akan mengelola dan memastikan ketersediaan APD yang stabil dan berkelanjutan.
“Kami merasa sangat bangga dengan apa yang dilakukan petugas kesehatan Spanyol,” jelas Illa kepada Reuters.
Sebagai informasi, Layanan Kesehatan Spanyol, dijalankan di level regonal. Namun, meningkatnya angka penularan yang diikuti angka kematian yang masif membuat pemerintah pusat mengambil alih dan meningkatkan status darurat pada 14 Maret lalu. Otoritas setempat terus mengusahakan penambahan ribuan staf medis untuk menangani COVID-19.
Pemerintah Spanyol juga telah mengusahakan pasokan APD bagi staf medisnya. [Mohamad Deny Irawan]






















