Jakarta, Gontornews — Institut Hijau Indonesia bersama Tim Editorial Jurnal Peradaban Hijau menggelar Webinar Nasional & Call for Papers. Mengusung tema “Menuju Indonesia Hijau: Strategi Indonesia Rendah Emisi 2030”, acara itu terlaksana dengan baik pada Rabu (10/9/2025) pukul 08.00-15.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.
Acara itu dilaksanakan guna mendukung agenda pemerintah menuju FOLU Net Sink 2030, sebuah target ambisius agar sektor kehutanan dan lahan Indonesia mampu menjadi penyerap karbon bersih pada tahun 2030. Adanya kekayaan hutan tropis dan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Indonesia memiliki peran penting dalam menghadapi krisis lingkungan global yang mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.
Acara tersebut menghadirkan tokoh-tokoh penting lintas sektor, antara lain H.E. Rut Kruger Giverin yang merupakan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia dan Timor Leste sebagai Keynote Speaker. Dalam sambutannya ia menegaskan, “Di tengah krisis iklim hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi lingkungan menjadi pusat dari upaya kolektif kita, untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.”
Tujuan Indonesia untuk menurunkan emisi sebelum 2030 merupakan keputusan yang berani. Norwegia lanjutnya, telah menyaksikan kepemimpinan Indonesia dalam memerangi deforestasi, memulihkan gambut serta memulihkan lanskap degradasi.
Menurutnya, penelitian ilmiah berperan penting dalam memahami sistem yang kompleks dan solusi efektif dan adil. “Saya mendorong generasi muda akademisi untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Suara, ide dan penelitian Anda akan membentuk masa depan yang hijau dan inklusif,” tekannya.
Hadir pula Dr Ir Agus Justianto MSc, Dr Joko Tri Haryanto SE MSE yang diwakilkan oleh Endah Tri Kurniawati, serta Hanna Adelia Runtu SHut (alumnus Green Leadership Indonesia).
Selain sesi pleno dan diskusi interaktif, kegiatan ini juga menjadi forum Call for Papers bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, dan praktisi untuk mempresentasikan hasil risetnya. Terdapat 50 pemakalah dan artikel terpilih akan diterbitkan di Jurnal Peradaban Hijau Volume 3.
“Melalui forum ini kami berharap lahir gagasan, publikasi ilmiah, dan aksi nyata demi Indonesia yang rendah emisi di tahun 2030,” ujar Dr Qurnia Indah Permata Sari SIP MSos, Editor in Chief Jurnal Peradaban Hijau.
Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, menambahkan bahwa jika kaum intelektual bergerak bersama, baik melalui tulisan yang terpublikasi di jurnal, mimbar-mimbar ilmiah, maka Indonesia akan berkontribusi signifikan dalam menghadapi triple planetary crisis. “Kami mengapresiasi banyak sekali kaum terdidik muda yang mengambil peran dalam kegiatan ini, dan setelah pertemuan ini kami akan menyelenggarakan seminar international, doakan semoga bisa terealisasi,” tekannya.
Sementara itu, Dr Ir Agus Justianto MSc menekankan bahwa penguatan tata kelola kehutanan menjadi kunci. “Kita harus optimis karena dalam melakukan negosiasi itu harus berdasarkan perhitungan yang matang, seperti FOLU net sink 2030,” ungkapnya.
Apa pun kebijakan baru harus tetap selaras dengan rencana tata ruang yang sudah ada. Kita juga mempunyai kebijakan yang mendukung penurunan emisi, kita masih on the track. “Jadi, selama bisa disesuaikan dengan kebijakan yang ada saya masih optimis,” tambah Agus.
Dari perspektif ekonomi lingkungan, Endah Tri Kurniawati selaku Direktur Perhimpunan Penghimpun dan Pengembangan Dana, BPDLH menyoroti pentingnya instrumen fiskal hijau bahwa untuk isu FOLU ini memang BPDLH dimandatkan sumber dana FOLU, salah satunya adalah kerjasama dengan Indonesia dan Norwegia.
Saat ini RBC/RBP adalah satu program yang sama, di mana Indonesia mendapat insentif karena menurunkan emisi. “Melalui international support ini cukup membantu pemerintah, termasuk entitas di dalamnya bisa mengakselerasi target FOLU net sink,” tekan sang direktur.
Sementara Hanna Adelia Runtu SHut menegaskan pentingnya peran generasi muda. Menurutnya, anak muda harus berada di garda depan. Meskipun sering merasa strangling, tapi menghadapi tantangan perlu strategi, komunikasi dan keberanian. Krisis iklim global menjadi momen tepat untuk menggalakkan penanaman mangrove, kampanye edukasi untuk menjangkau dukungan, serta partisipasi masyarakat.
Jadi kolaborasi menjadi kunci untuk memperbesar dampak, ini bisa dilakukan melalui budidaya berkelanjutan. “Dengan cara ini harapannya tantangan dapat kita ubah menjadi peluang untuk terus bergerak menuju Indonesia yang hijau,” jelas Hanna.
Jurnal Peradaban Hijau merupakan jurnal akademik yang fokus pada kajian lingkungan, kehutanan, dan pembangunan berkelanjutan. Sejak 2024, jurnal ini aktif menjadi wadah publikasi bagi peneliti dan praktisi yang peduli pada isu lingkungan hidup. [Edithya Miranti]




















