Ankara, Gontornews — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik para mahasiswa anti-perang di Universitas Bogaziçi, dan menyebut mereka sebagai teroris menyusul pertikaian mahasiswa di kampus itu.
Seperti dirilis hurriyetdailynews.com, saat berbicara di Provinsi Samsun di Laut Hitam bagian utara, Erdogan mengatakan, “pemuda komunis, pengkhianat” mencoba mengacaukan stan mahasiswa yang dibuka oleh “pemuda religius, nasionalis, lokal” di Universitas Bogaziçi.
Ia meminta kasus itu diselidiki dan mengatakan, “Kami tidak akan memberi para pemuda teroris ini hak untuk belajar di universitas-universitas ini.”
Pada 19 Maret, sekelompok mahasiswa membuka gerai dan membagikan permen yang dijuluki “kesenangan Afrin” untuk mengenang para prajurit yang gugur di operasi lintas batas Turki di Suriah. Kelompok mahasiswa lain memprotes mereka dan merentangkan spanduk anti-perang.
Kantor berita Turki Anadolu mengatakan, perkelahian pun pecah dan 12 orang kemudian ditahan.
Turki meluncurkan operasi “Olive Branch” pada 20 Januari untuk memberantas para anggota Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di Afrin. Pada 18 Maret, angkatan bersenjata Turki dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) menyatakan kontrol penuh atas kota itu.
Turki menganggap YPG sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang.
Empat tentara Turki tewas pada 22 Maret di Turki timur dan Afrin, Suriah dalam dua kasus terpisah yang melibatkan YPG dan PKK. [Rusdiono Mukri]




















