Gontornews — Lama tidak ada kabar, Dr Habib Chirzin kini muncul setiap hari. Setidaknya melalui media sosial, khususnya di ruang Zoom, Facebook dan Youtube. Salah satu maestro civil society Indonesia itu kini tiap hari menyapa peserta kuliah online yang digelar oleh International Institute of Islamic Thought (IIIT) regional Asia Timur dan Asia Tenggara.
Di era pandemi ini, IIIT menggelar kuliah online tiap hari selama 49 hari tanpa jeda. Kuliah ini menghadirkan tujuh narasumber yang pakar di bidangnya. Mereka yaitu: Prof Dr Eka Putra Wirman Lc (UIN Imam Bonjol Padang), Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA MPhil (UNIDA Gontor), Assoc Prof Dr Murniati Mukhlisin MAcc CFP (IAI Tazkia Bogor), Prof Dr Nurhayati Djamas MA MSi (Universitas al-Azhar Indonesia), Assoc Prof Dr Anis Malik Thoha (Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam), Dr H Imam Zamroji MA (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir), dan Assoc Prof Dr M Abdul Fattah Santoso MAg (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Dalam setiap sesi kuliah itu Habib Chirzin menyampaikan kata pengantar.
Ketua Badan Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 1990-1995 itu mengisahkan, “Waktu saya berkantor di Paris, kantor saya itu dekat dengan makam Rene Descartes, saya pernah ziarah ke makamnya.” Rene Descartes merupakan filsuf dan matematikawan Prancis yang dinobatkan sebagai Bapak Filsafat Modern.
Alumnus Pondok Modern Gontor itu juga mengisahkan, ketika berkunjung ke kampus salah seorang sahabatnya, Prof Dr Fahmi Amhar di Vienna, Austria, ia ditunjukkan oleh sahabatnya itu kamar kerja Sigmund Freud, pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi.
Country Representative IIIT Indonesia, itu menyebutkan ilmu pengetahuan dari Barat yang menihilkan peran agama dan sekuler, mesti dikaji ulang dan diintegrasikan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. “Kita perlu islamisasi ilmu pengetahuan, mengembalikan ilmu pengetahuan ke islamic worldview,” paparnya.[]



















