pesanan-majalah-edisi-khusus
32 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 12 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Muamalah Ekonomi

Ironi Utang dan Kemerdekaan

Dedi Junaedi by Dedi Junaedi
18 August 2017
in Ekonomi
0

Oleh Sri Bintang Pamungkas

Di jaman Pak Harto aku selalu mendapat buku Nota Keuangan setiap tahun dan terbitan lain dari Bank Indonesia. Kalau tidak dikirimi, aku datangi dan minta, diberi gratis. Bukunya cukup lengkap meliputi banyak sektor ekonomi dan industri. Dan tebal juga, lebih dari 400 halaman, dengan gambar-gambar grafik berwarna dan tabel-tabel. Dari situ saya dapat mengikuti perkembangan Repelita, sekalipun selalu terlambat satu tahun. Dan sekalipun harus ditambah pula dengan data Biro Pusat Statistik.

Itu waktu Bank Indonesia masih di bawah Departenen Keuangan. Jadi kemungkinan Depkeu juga yang menerbitkan, sebab selalu ada Lampiran RUU APBN. Dari terbitan-terbitan itu masyarakat bisa mengikuti pula besarnya Utang-utang Negara, yang dibuat Pemerintah dan Swasta. Setelah Soeharto mundur, saya tidak pernah melihat lagi Nota Keuangan. Apalagi BI sudah menjadi Otoritas Moneter yang independen. Tetapi data Utang Negara saya dapat dari sumber-sumber lain, dalam dan luar negeri.

Itulah sebabnya banyak simpang-siur tentang soal Utang Negara itu, khususnya Utang Luar Negeri (UBN). Terutama karena tidak ada sumber dari Pemerintah yang pasti. Bahkan dugaan saya, situasi ini sengaja dibuat, karena Pemerintah tidak mau terbuka dalam soal ULN ini kepada publik. Seperti pernah saya sampaikan, pada 1997 saat terjadi Krisis Moneter, Pak Radius Prawiro, mantan Menteri Keuangan dan Ketua Badan Peneriksa Keuangan, pernah dua kali gagal menghitung ULN Indonesia. Jadi, wajar kalau besarnya ULN ini tidak jelas, tidak terdeteksi dengan baik dan sengaja dibuat tidak jelas.

BACA JUGA

BI-Kemenag-UNIDA Gontor Gelar Sekolah Wakaf

KUII Ke-8: BAZNAS Komitmen Perkuat Peran Zakat untuk Pemberdayaan Mustahik

Penerbit Erlangga Raih Apresiasi Radar Surabaya Awards 2026

Sakinah Finance Dorong Literasi Keuangan Syariah bagi Generasi Muslimah di Kampus Aisyah binti Abu Bakar Bogor

BAZNAS Bersama Petani Binaan di Batu Bara Sukses Panen Raya 150 Ton Padi

Besarnya ULN pada suatu waktu itu harus dikurangi dengan komponen Cicilan Utang yang dibayar karena jatuh tempo, dan ditambah dengan komponen Utang Baru yang dibuat. Maklumlah, karena sejak 1967, Indonesia selalu berutang dari banyak negara setiap tahun tanpa henti sampai sekarang.

Dari catatan saya, besarnya ULN pada akhir Pak Harto 1997/98 berjumlah USD 137.4 miliar, terbagi atas Utang Pemerintah (P) sebesar 65.9 M dan Utang Swasta (S) sebesar 72.5 M. Pada 2004, awal SBY memimpin menjadi USD 130.9 miliar (P: 83.3 M dan S: 57.6 M). Pada masa SBY itu CGI (Consultative Group on Indonesia, pengganti IGGI, Inter-Governmental Group on Indonesia) dibubarkan, sehingga ULN dilakukan secara bilateral.

Pada 2007 mencapai USD 141.2M (P: 80.6 M dan S: 60.6M). Pada masa ini Sri Mulyani mulai masuk. Pada 2009 mencapai USD 175.5 M (P: 101.3 M dan S: 74.2 M). Pada masa Sri Mulyani ini ULN terus naik. Tercatat 2010: USD 202.4 M
2011: USD 225.4 M
2012: USD 252.4 M
2013: USD 260.0 M
2014: USD 265.0 M (Jan)
2014: USD 276.5 M (Mar)
2014: USD 298.0 M (Okt)

Jadi, Bank Dunia atau World Bank mengacungkan jempol kepada Sri, karena prestasinya dalam meningkatkan UBN, bukan karena kepiawaiannya mengolah Keuangan Negara dan mengurangi ULN Indonesia! Bank Dunia (WB) ikut untung besar! Karena itulah WB menolongnya dengan memberi posisi, ketika KPK memeriksanya dalam Kasus Bank Century.

Pada Maret 2014 jumlah Utang Pemerintah mencapai USD 130.5 M dan Swasta USD 146.0 M. Singapur adalah Negara Donor terbesar (USD 52.0 M), dususul oleh AS (USD 41.1 M) dan Jepang (USD 35.1 M)

Debt Service Ratio/DSR, yaitu Jumlah Pembayaran Cicilan dan Bunga dibanding dengan Kemampuan Expor juga meningkat terus, dari 21.7% (2009), menjadi 35.6% (2012), menjadi 43.4% (2013) dan menjadi 46.3% (Semester I 2014). Ini disebabkan oleh pembayaran Cicilan dan Bunga yang terus meningkat, sementara kemampuan Expor menurun.

Persoalan ULN ini memang menyulitkan bagi Negara-negara Berkembang dalam banyak hal. Antara lain, Proyek yang dibiayai dengan ULN itu salah sasaran, tidak bermanfaat, tidak menguntungkan, apalagi tidak menghasilkan Dollar. Belum lagi, yang mendapat proyek ternyata pihak pemberi utang juga. Yang lebih “menyulitkan”, karena selalu harus membayar kembali Cicilan dan Bunga, maka Utang Baru “terpaksa” harus dibuat lagi lebih besar. Ini yang saya ibaratkan dengan “kecanduan” atau addicted, pada Narkoba

Hal yang sama terjadi lagi dan dilanjutkan oleh Jokowi. Menurut saya, Jokowi memang sudah lama dilirik Cina RRC dan didukung oleh Mafia-mafia Cina Indonesia. Mirip dengan SBY yang juga sudah diperam oleh AS sejak SBY belajar di Fort Benning, Atlanta, Georgia, kira-kira setahun lebih dulu dari Prabowo. Karena itu, Jokowi cenderung mencari ULN dari RRC. Bahkan Jokowi sudah dibisiki oleh pihak MSS (Ministry of Security Service) semacam CIA-nya AS, tentang rencana pembangunan Sutera Laut RRC dan upaya mendominasi Laut Cina Selatan. Yaitu lewat Program OBOR (One Belt One Road) yang jangkauannya menguasai Asia Selatan sampai Afrika. Maksudnya agar Jokowi ikut setuju dan mendukung Program tersebut.

Imbalannya adalah jabatan Presiden, sama seperti SBY! SBY mengatakan mencintai AS seperti negaranya yang ke dua, pada Agustus 2004. Jokowi juga mengatakan saat November 2014, tentang rencana Tol Laut dan Poros Maritimnya di Konferensi APEC, Beijing.

Maka dimulailah Proyek-proyek pembangunan Infrastruktur. Di samping itu diserahkan pula Proyek Reklamasi dan Meikarta kepada para Mafia Cina lainnya. Apa yang saya sampaikan dalam tulisan terdahulu tentang Uang Pajak yang hilang selama 3 tahun terakhir sampai kira-kira Rp 1.500-an Trilyun itu adalah dalam kerangka OBOR Cina RRC itu. Selain Proyek-proyek Infrastruktur berupa Pelabuhan-pelabuhan di Kota-kota Utara Indonesia, juga proyek-proyek Minerba, penguasaan Lahan-lahan Industri dan Lahan-lahan Subur di Jawa, serta Kereta Api Cepat Cina. Tentu tidak lupa tempat-tempat Ibadah seperti ribuan Kelenteng Buda dan Kong Hu Chu, berikut patung-patung Toa Peh Kong-nya yang dibangun di mana-mana.

Jokowi sepakat Proyek-proyek itu sebagai Turn-key Projects, yang begitu selesai lalu diserahkan kepada Indonesia. Sejak jaman Soekarno-Hatta dan Pak Harto juga sudah ada model Turn-key Projects atau Proyek Serah-kunci itu, seperti Semen Gresik dari kredit Exim Bank dari AS itu. Tapi tenaga kerjanya semua dari Indonesia kecuali Orang-orang Teknik dan Konsultan. Bahkan Bung Hatta minta agar insinyur-insinyur Indonesia ikut dilibatkan. Proyek-proyek Cina RRC ini semua buruhnya didatangkan dari Cina. Sudah pasti mereka tidak mau pulang seperti kejadian di Timor-Timur, Tibet, Srilangka, dan beberapa Negara di Afrika. RRC melakukan dengan sengaja dan Jokowi OK-OK saja.

Intinya adalah Cinaisasi Indonesia. Tenaga kerja disediakan oleh RRC, bahkan jutaan manpower Cina RRC yang sengaja dimigrasikan ke Indonesia. Mereka mempunyai kemampuan tidak saja sebagai buruh Bangunan atau mekanik Industri, atau bahkan petani yang bisa membawa Bajak dan Cangkul, tapi juga memegang Senjata. Untuk itu pula Visa Kunjungan disiapkan, lengkap dengan KTP Aspal seumur hidup!

Dana Berupa ULN sudah disiapkan, berapa saja oleh RRC. Sebagian berupa ULN, sebagian masuk dana talangan dalam Turn-key Projects macam Kereta Api Cepat Cina. Pembangkit Tenaga Listrik, Pelabuhan dan lain-lain. Kalau ULN dalan 2,5 tahun terakhir mendadak sontak naik tidak kurang dari USD 40 M, maka ditambah dengan dana talangan jumlahnya bisa saja mencapai seratusan milyar USD. Di sini Rezim Jokowi sengaja tidak terbuka tentang berapa ULN yang dibuatnya selama ini, termasuk dana Talangan dari Cina RRC.

Kalau itu terjadi, Jokowi benar-benar bikin tenggelam Indonesia untuk diserahkan kepada Cina RRC. Sebagai contoh, Kereta Api Cepat Cina yang konon harganya mencapai USD 6 milyar dengan panjang Jakarta-Bandung 150 km. Di Laos dengan harga yang sama panjang relnya 450 km. Kalau Indonesia tidak mampu bayar, maka itu Kereta Cina menjadi milik Cina di Indonesia. Juga pelabuhan-pelabuhan yang mereka bangun menjadi milik mereka, sebagainana terjadi di Srilangka.

Bukan cuma itu. Cina-cina RRC datang pula berbondong-bondong dari Utara ke Indonesia. Kalau tugas Jokowi selesai, dia maksudkan meninggalkan Negara Jajahan Cina itu untuk Anak-Cucu Pribumi.

Setelah 72 tahun merdeka, Bangsa Indonesia harus mampu mempertahankannya. MERDEKA!(*dimuat teropongsenayan.com)

Tags: IroniKemerdekaanSri Bintang PamungkasUtang
Share16Tweet10Send
Previous Post

Kurangi Beban Umat Lewat Pikul Bareng

Next Post

Ketua GISS: Shalat Shubuh Pilar Utama Keberkahan Indonesia

Dedi Junaedi

Dedi Junaedi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

9 September 2026
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026

Gontor Pelopor Penulisan Al-Qur’an

0
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

0
Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

0
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

0
Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

0

Gontor Pelopor Penulisan Al-Qur’an

12 September 2026
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

11 September 2026
Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

Penutupan Festival Kaligrafi Internasional Hadirkan Tokoh Mancanegara

11 September 2026
Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Resmi Dibuka

9 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak di Era AI: Transformasi Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri Berdasarkan Nilai-nilai Pendidikan dalam Surat Luqman

9 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
â–²
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result