Jika menyebut nama Abu Tholib, umat Islam langsung merujuk sosok yang memiliki peran besar mengasuh dan menjaga Nabi Muhammad SAW ketika remaja. Dia adalah paman Nabi Muhammad SAW.
Belakangan ini nama yang sama cukup poluler di Belanda. Tidak hanya di kalangan umat Islam tapi juga umat lain di Kota Rotterdam, Belanda. Bahkan nama itu kini mendunia. Itulah walikota Muslim pertama di Belanda.
Bernama lengkap Ahmad Aboutaleb, pria ini tak hanya sukses memimpin Rotterdam selama dua periode, tapi juga sukses membangun kota dengan beragam etnisnya.
Warga keturunan Maroko ini memiliki filosofi kepemimpinan, solidaritas berarti timbal balik. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana Aboutaleb membangun masyarakat yang sedang dia pimpin saat ini.
Dulu, kata dia, Rotterdam menjadi medan pertempuran Perang Dunia II. Ribuan tentara dari penjuru bumi bertaruh nyawa di sini. Setelah perang selesai, Rotterdam menjadi kota maju. Kota pelabuhan itu menjadi tujuan banyak pendatang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Termasuk dirinya yang datang bersama orangtuanya ke Belanda tahun 1976 untuk bisa menjalani hidup yang lebih layak. Nasib baik membawanya untuk bisa mengenyam pendidikan di jurusan telekomunikasi Hogere Technische School.
Di Belanda, pria yang hobi membaca syair Arab ini mengawali karier sebagai jurnalis di sejumlah media sebagai reporter. Jiwa solidaritasnya terasah karena banyak bersentuhan dengan isu-isu diskriminasi yang dialami warga miskin, multikulturalisme dan toleransi.
Pengalaman itulah yang menuntun hatinya untuk terjun ke dunia politik bersama Partai Buruh Belanda (Nederland Labour Party atau NLP).
Di saat tensi politik di negeri kincir angin itu memanas, lawan-lawan politiknya kerap menyerang dirinya dengan isu nasionalisme, kewarganegaraan dan sebagainya.
Tapi, kritik itu tidak ditanggapi dengan omongan. Aboutaleb memilih bekerja nyata, membuktikan kemampuannya, sekaligus menunjukkan pada kaum sekuler bahwa seorang Muslim bukan golongan rendahan dan tak bisa menjadi pemimpin yang lebih baik.
Tahun 2009, Aboutaleb terpilih sebagai Walikota Rotterdam dan di awal kepemimpinannya, dia banyak berkunjung ke daerah-daerah untuk berdialog dengan warga dan mencoba memahami kebutuhan mereka.
Selain itu, dia juga kerap melibatkan masyatakat dari berbagai unsur untuk membangun kota yang lebih tertib, aman, dan sejahtera.
Cara ini cukup efektif untuk mewujudkan Rotterdam menjadi kota bagi semua kalangan. Termasuk melibatkan anak muda untuk merajut masa depan yang cerah dan sejahtera.
“Pekerjaan saya adalah menjadi walikota bagi pengusaha Belanda hingga anak Suriname yang hanya belajar untuk bisa mencari nafkah,†katanya.
Pria yang lahir 29 Agustus 1961 ini tak ingin generasi muda merasakan kepahitan yang pernah dialaminya. Di sebuah desa di Beni Sidel, sebuah kota kecil di jalur pegunungan Rif, utara Maroko, Aboutaleb pernah hidup di tengah kemiskinan.
“Saya menghabiskan 15 tahun pertama kehidupan saya di Maroko dengan makan sekali sehari, berjalan tanpa sepatu,†kenangnya.
Seolah menjadi dendam masa lalunya, Aboutaleb ingin membawa warganya berubah ke arah yang lebih baik dan menjadi pelindung kaum lemah. Selama ini Aboutaleb juga dikenal sebagai pemimpin manusiawi yang tidak pernah membedakan rakyat yang dipimpinnya. [Ahmad Muhajir/Rus]























