Jakarta, Gontornews — Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengunjungi PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 62, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore, 29 Januari 2021. Kedatangan Lisyto disambut Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dan Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas.
Kepada Kapolri, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang berbicara secara virtual dari Yogyakarta mengatakan, Muhammadiyah sebagai organisasi besar yang berdiri sebelum Indonesia merdeka terus meneguhkan komitmen untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Baik sewaktu perjuangan kemerdekaan maupun ketika setelah Indonesia merdeka, bahkan di dalam momen-momen sejarah yang krusial itu Muhammadiyah berada di garis depan,” tutur Haedar pada Jumat (29/01) saat menerima silaturahim Jenderal Listyo Sigit secara virtual.
Haedar juga menegaskan, Muhammadiyah tanpa banyak bicara membangun Indonesia dengan nyata untuk pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun kesejahteraan umum dan juga membawa Indonesia yang betul-betul sejalan dengan Pancasila yakni menjadikan bangsa Indonesia itu beragama dan menjalankan agama itu yang moderat, yang menyatukan dan membawa kamajuan
“Karena itu, ketika kami menjalankan tugas-tugas keagamaan itu bagian dari membina warga bangsa kita menjalankan agama dengan baik, termasuk dalam hal toleransi yang tentu harus kita tingkatkan,” jelas Haedar seperti diunggah muhammadiyah.or.idkapolri.
Karena itu, lanjut Haedar ketika ada problem gesekan antar umat beragama maupun dengan warga bangsa, atau bahkan mungkin juga dengan aparat maka Muhammadiyah selalu mengedepankan pentingnya persatuan, kemudian perdamaian dan keutuhan bangsa.
“Bahkan tentang kebhinekaan kami tidak banyak kata, sesungguhnya Muhammadiyah sejak lama membangun kawasan timur Indonesia lewat bidang pendidikan dan kesehatan,” terang Haedar.
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengunjungi PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 62, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore, 29 Januari 2021. Kedatangan Lisyto disambut Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dan Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas.
Kepada Kapolri, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang berbicara secara virtual dari Yogyakarta mengatakan, Muhammadiyah sebagai organisasi besar yang berdiri sebelum Indonesia merdeka terus meneguhkan komitmen untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Baik sewaktu perjuangan kemerdekaan maupun ketika setelah Indonesia merdeka, bahkan di dalam momen-momen sejarah yang krusial itu Muhammadiyah berada di garis depan,” tutur Haedar pada Jumat (29/01) saat menerima silaturahim Jenderal Listyo Sigit secara virtual.
Haedar juga menegaskan, Muhammadiyah tanpa banyak bicara membangun Indonesia dengan nyata untuk pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun kesejahteraan umum dan juga membawa Indonesia yang betul-betul sejalan dengan Pancasila yakni menjadikan bangsa Indonesia itu beragama dan menjalankan agama itu yang moderat, yang menyatukan dan membawa kamajuan
“Karena itu, ketika kami menjalankan tugas-tugas keagamaan itu bagian dari membina warga bangsa kita menjalankan agama dengan baik, termasuk dalam hal toleransi yang tentu harus kita tingkatkan,” jelas Haedar.
Karena itu, lanjut Haedar ketika ada problem gesekan antar umat beragama maupun dengan warga bangsa, atau bahkan mungkin juga dengan aparat maka Muhammadiyah selalu mengedepankan pentingnya persatuan, kemudian perdamaian dan keutuhan bangsa.
“Bahkan tentang kebhinekaan kami tidak banyak kata, sesungguhnya Muhammadiyah sejak lama membangun kawasan timur Indonesia lewat bidang pendidikan dan kesehatan,” terang Haedar.
Karena itu, Haedar berharap Kapolri yang baru ini bisa merekat kesatuan umat dan bangsa dan sekaligus juga bisa melakukan ikhtiar penegakkan hukum berbasis pada keadilan.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolri menegaskan, dalam mengatasi masyarakat yang terpapar radikalisme global pihaknya tidak lagi menggunakan istilah deradikalisasi, namun akan menggunakan pendekatan moderasi beragama.
“Kami sami’na wa atho’na dengan menggunakan pendekatan moderasi beragama dalam mengatasi persoalan radikalisasi,” ucap Listyo.
Listyo juga mengatakan, silaturahim yang dilakukan juga sebagai bentuk menguatkan dan meningkatkan sinergi antara Kepolisian dengan Muhammadiyah.
“Kami ingin merangkul semua pihak, khususnya dengan ulama dan ormas-ormas apalagi kami ketahui Muhammadiyah adalah salah satu organisasi umat terbesar dari tahun 1912, sehingga wajib bagi kami untuk bisa bersinergi,” jelasnya.
Listyo juga mengatakan dalam menjalankan penegakan hukum akan mengedepankan humanisme dan bagaimana menjadikan lembaga Kepolisian sebagai lembaga yang transparan yang melayani.
“Untuk itu kami harus terus mendapatkan masukan, karena memang kami tidak bisa melihat potret kami sendiri jadi harus ada yang memotret dan yang memotret adalah dari bapak-bapak dan ibu-ibu di Muhammadiyah dan juga Aisyiyah,” imbuhnya. [fathur]


















