Khartoum, Gontornews – Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Khartoum, Sudan, menghentikan layanan operasionalnya. “Pertempuran di Sudan menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima bagi personel kedutaan kami,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.
Presiden AS Joe Biden membenarkan bahwa evakuasi staf diplomatik berarti Kedutaan Besar AS di Khartoum akan menangguhkan operasinya.
“Tapi komitmen kami kepada rakyat Sudan dan masa depan yang mereka inginkan untuk diri mereka sendiri tidak ada habisnya,” tambahnya dirilis dw.com.
Sekitar 16.000 warga AS terdaftar di kedutaan, tetapi para pejabat mengatakan jumlah ini kemungkinan tidak akurat karena warga AS tidak diharuskan mendaftarkan kehadiran mereka di negara tersebut, juga tidak diharuskan memberi tahu kedutaan jika mereka pergi.
“Kekerasan tragis di Sudan ini telah merenggut nyawa ratusan warga sipil tak berdosa,” kata Biden. “Itu tidak masuk akal dan harus dihentikan.”
Evakuasi AS terjadi setelah Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan pada hari Sabtu bahwa pihaknya telah mengevakuasi 91 warga Saudi dari Port Sudan ke Jeddah, bersama dengan 66 warga negara dari beberapa “negara sahabat dan persaudaraan” lainnya.
Panglima militer Sudan Abdel Fattah al-Burhan mengatakan Cina, Prancis, dan Inggris juga akan mengevakuasi warganya pada hari Ahad.
Spanyol telah mengerahkan beberapa pesawat ke negara terdekat Djibouti untuk memfasilitasi evakuasi dan Yordania juga mengatakan sedang mempersiapkan misi evakuasi dengan negara-negara Teluk.
Pertempuran pecah di Sudan lebih dari sepekan lalu antara dua jenderal paling kuat di negara Afrika timur laut itu dan unit militer masing-masing.
Sedikitnya 413 orang tewas dan lebih dari 3.500 orang terluka sejak pertempuran dimulai, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). []


















