Dhaka, Gontornews –- Menyusul diserahkan nama-nama pengungsi Rohingya oleh pemerintah Bangladesh ke Pemerintah Myanmar, sejumlah LSM pendidikan di Bangladesh mengkritik repatriasi. Menurut mereka, repatriasi sebabkan hilangnya kesempatan anak-anak Rohingya untuk mendapatkan hak belajar dan mengenyam pendidikan.
Selama di tempat penampungan pengungsian, sejumlah LSM penyedia bantuan pendidikan memberikan pelatihan hidup kepada anak-anak yang berada di pengungsian. Mereka mengajakan baca tulis, dan berhitung bagi anak-anak. Sedangkan masjid, dijadikan sebagai tempat anak-anak Rohingya mengenyam pendidikan agama.
Menurut petugas LSM pendidikan, Ukhiya’s Upazila Nirbahi Officer Md, Nikarusszaman mengatakan bahwa mereka tetap memastikan anak-anak dapat mengenyam pendidikan yang layak.
Unicef PBB menyebut ada sektiar 80.370 anak berusia antara 4-14 tahun yang menjadi pengungsi Rohignya di Bangladesh. Kedekatan bahasa antara wilayah Rakhine State dan Cox’s Bazar telah memudahkan masyarakat dari kedua belah pihak berinteraksi dan berkomunikasi.
Menurut Mohammad Hussain dari desa Hatipara di Maungdaw, Myanmar, mengatakan bahwa anak-anak Rohingya merupakan anak yang cerdas dan sangat antusias dalam mengenyam pendidikan dasar.
“Anak-anak sangat antusias. Banyak dari mereka yang melarikan diri ke Bangladesh dan melanjutkan sekolah di Madrasah sekitar Chittagong sembari menyembunyikan identias mereka,” kata Hussain sebagaimana dilansir Tribune Dhaka.
Sementara itu, pemerintah Bangladesh menyampaikan bahwa kritikan seputar pemberian fasilitas pendidikan bagi anak-anak Rohignya bukan prioritas utama dan bersifat sementara. Pemerintah Bangladesh, disebut, lebih fokus ke upaya repatriasi warga Rohingya agar kembali ke kampung halamannya di Rakhine State.
“Kami bekerja untuk mengirim mereka kembali secepat mungkin karena keberdaan mereka di sini bersifat sementara. Kami fokus untuk menyalurkan kebutuhan dasar mereka yang diberikan oleh para pemberi bantuan,” kata Wakil Komisi Cox’s Bazar, Ali Hossain sembari membela kebijakan pendidikan Bangladesh untuk anak-anak Rohignya. [Mohamad Deny Irawan]





















