Bamako, Gontornews — Lebih dari 40 orang tewas setelah sebuah bom mobil bunuh diri menghantam sebuah kamp militer di Kota Gao, Mali utara, menurut pejabat pemerintah.
Presiden Ibrahim Boubacar Keita mengumumkan masa berkabung tiga hari setelah serangan Rabu (18/1), yang terburuk dalam beberapa tahun.
Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan, yang menewaskan sedikitnya 47 orang, termasuk lima pembom bunuh diri, dan melukai lebih dari 115 lainnya, menurut jurubicara militer Diarran Kone.
Ledakan pagi itu menghantam kamp Joint Operational Mechanism di Gao, markas tentara Mali dan ratusan mantan pejuang yang telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan pemerintah pada tahun 2015, yang bertujuan mengurangi kekerasan di wilayah tersebut.
Sadou Maiga, seorang dokter di rumah sakit Gao, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa semua kegiatan lain rumah sakit telah berhenti dengan datangnya puluhan korban luka-luka.
“Beberapa meninggal karena luka-luka mereka, dan yang lain dalam kondisi yang sangat kritis,” katanya seperti dikutip Aljazeera.
Saksi mata mengatakan, mobil pembawa bahan peledak menyerang kamp sekitar pukul 09:00 waktu setempat, ketika ratusan pejuang berkumpul untuk rapat.
Pembom bunuh diri “berhasil menipu kewaspadaan prajurit ‘” dan menembus kamp, kata Kone.
Serangan itu terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Prancis, Francois Hollande, mengunjungi kamp itu. [Rusdiono Mukri]




















