London, Gontornews — Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal daring Nature Geoscience disebutkan bahwa musibah kebakaran hutan di beberapa wilayah di dunia dapat mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Para peneliti menemukan bahwa arang yang dihasilkan dari kebakaran hutan dapat memerangkap karbon selama ratusan tahun dan dapat membantu mengurangi perubahan iklim.
Penelitian yang dilakukan oleh Matthew W Jones dan tim tersebut menjelaskan bahwa arang memainkan peran penting dalam kompensasi emisi karbon dari kebakaran. Arang, lanjutnya, sangat efektif dalam mengunci seluruh karbon untuk beberapa tahun mendatang.
Dalam penelitian yang berjudul Global emissions buffered by the production of pyrogenic carboon itu menemukan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di seluruh dunia dalam satu tahun sama dengan luas wilayah India. Akibatnya, sejumlah pancaran karbon dioksida naik ke atmosfer lebih banyak ketimbang gabungan jalan di dunia, kereta api, jasa pengiriman hingga transportasi udara global.
Lebih lanjut, para peneliti menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar akan tumbuh dan menarik kembali CO2 dari atmosfer melalui mekanisme fotosintesis. Ini merupakan siklus pemulihan kebakaran secara normal yang bisa saja memakan waktu kurang dari setahun di padang rumput atau puluhan tahun di hutan yang terkena dampak kebakaran.
“Namun, dalam setiap fenomena kebakaran, beberapa vegetasi tidak dapat dikonsumsi dengan cara dibakar melainkan diubah menjadi arang. Bahan kaya karbon ini dapat disimpang di tanah dan lautan dalam periode waktu yang sangat lama,” ungkap Matthew W Jones sebagaimana dilansir Science Daily.
“Kami telah menggabungkan hasil studi lapangan, data satelit serta pemodelan yang lebih baik untuk menghitung jumlah karbon yang disimpan dalam kebakaran dalam skala global,” tambah Dr Jones.
Oleh tim, karbon yang terkadung dalam arang lantas dikaitkan dengan perubahan iklim global. Mereka memperkirakan adanya peningkatan prevelansi serta peningkatan penyimpanan karbon pirogenik (semisal arang) akibat iklim panas yang terjadi di daerah terdampak kebakaran hutan.
“Jika vegetasi dibiarkan pulih secara alami, maka CO2 yang dipancarkan akan kembali ditangkap oleh vegetasi yang telah tumbu kembali setidaknya dalam beberapa dekade mendatang,” ujarnya.
“Kami berharap karbon pirogenik tambahan akan terperangkap selama berabad-abad hingga ribuan tahun yang akan datang dan meskipun pada akhirnya akan kembali ke atmosfer ketika arang terdegradasi, karbon pirogenik akan ikut terkunci sehingga tidak dapat mempengaruh iiklim untuk sementar waktu,”
“Ini kabar baik, meski penginatakan emisi CO2 akibat ulah manusia serta deforestasi dan beberapa kebakaran di lahan gambut menjadi ancaman serius bagi iklim global,” pungkas Dr Jones. [Mohamad Deny Irawan]





















