Sukoharjo, Gontornews — Masjid Darussalam menjadi salah satu masjid yang menyimpan sejarah perjuangan melawan penjajah di Jawa, terutama Pangeran Diponegoro. Pasalanya, di masjid ini, Pangeran Diponegoro mengatur strategi perang.
Masjid ini hanya beberapa kilometer dari Kota Sukoharjo. Lokasinya ada di sentra batik, jenang, pabrik jamu, serta kosmetik yang ada di Sukoharjo. Masjidnya terlihat sederhana dan mirip layaknya masjid-masjid kampung pada umumnya. Meski demikian, masjid ini kaya akan nilai sejarah.
Masjid yang berada di Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Sukoharjo ini merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Sukoharjo bahkan Soloraya. Masjid ini diperkirakan dibangun abad ke-14 atau masa awal-awal Walisanga menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
“Masjid Darussalam ini bahkan bukan tertua di Sukoharjo tapi Soloraya. Diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, saya punya batu bata khas zaman itu,” ujar tokoh masyarakat Kedunggudel, Sehono seperti dilansir SuaraSurakarta.id, Selasa (20/4/2021).
Meski sudah berusia ratusan tahun tapi Masjid Darussalam masih berdiri kokoh dan bentuknya masih asli. Masjid ini sudah mengalami tiga renovasi, renovasi terakhir itu pada 1837.
“Ini sudah tiga renovasi, terakhir di renovasi pada 1837 dan hingga sekarang masih kokoh. Saya belum nemu referensi bentuk bangunan masjid sebelum 1837,” sambung dia.
“Dulu sebelum 1837 masjid ini dibuat untuk membentuk strategi perang Pangeran Diponegoro, tempat bertemunya Pangeran Diponegoro dengan PB VI. Terakhir untuk melindungi gerilyawan-gerilyawan pada 1949,” ungkapnya.
Ada beberapa bukti identik Pangeran Diponegoro pernah di sini, seperti terdapat sumur Kyai Pleret yang konon sebagai penyimpanan peralatan perang dari Keraton Kasunanan Surakarta. Lalu ada makam-makam pengikut Pangeran Diponegoro di sebelah barat, seperti Tumenggung Tarumanegoro dan Pangeran Slarong.
Pada masa agresi Belanda kedua, kampung Kedunggudel khususnya Masjid Darussalam ini dibom oleh Belanda. Karena Belanda akan masuk ke Kedunggudel kesulitan, akhirnya dari Sukoharjo dijatuhi bom sebanyak 21 buah. Anehnya, meski dibom sebanyak 21 tidak ada yang meletus walaupun bomnya sudah mendarat di Kedunggudel. “Kalau sekali dua kali dibom mungkin kebetulan tapi ini sebanyak 21 kali. Kena dan sudah mendarat tapi tidak meletus,” tegas dia.
Masjid Darussalam ini terdapat tiga bagian, yakni ruang utama, serambi, dan keputren. Pada bagian dalam masjid khususnya ruang utama terdapat mimbar peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta. Mimbar tersebut dengan ornamen bunga Wijaya Kusuma yang merupakan ornamen khas Majapahit. Bunga Wijaya Kusuma merupakan bunga yang bisa dipakai untuk pengobatan.
Masjid ini memiiki dua daun pintu. Yang menarik, jumlah tiang yang ada di dalam masjid ini sama persis dengan yang ada di Masjid Agung Demak, yakni 16. Tiangnya juga dibuat dari kayu jati yang dibentuk bulat dengan tinggi sekitar 6-8 meter. Kalau di serambi masjid, terlihat ada delapan buah tiang yang sangat kokoh.
Awalnya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Tiban karena memiliki atap sirap. Namun, pada 1916, atapnya diganti menjadi genteng. Tiang di bagian serambi juga ditinggikan. Karena wilayah ini pernah banjir sehingga bangunan masjid ditinggikan agar tidak tergenang.
Tiang-tiang masjid itu dari kayu jati bulat utuh dengan ketinggian enam meter hingga delapan meter. Di serambi masjid juga terdapat tiang berjumlah delapan. Atap eternit masjid tampak rapi dengan gelagar kayu tertata sehingga menambah keasrian ornamen masjid. [fath]




















