Jakarta, Gontornews — Masjid Tuo Kayu Jao merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dari pusat Kota Padang, masjid ini dapat dicapai setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam.
Masjid Tuo Kayu Jao terletak di perbukitan hijau yang sejuk di ketinggian 1.152 meter di atas permukaan laut. Masjid berdekatan dengan perkebunan teh di sebuah lembah kecil sehingga membuatnya seperti dibentengi perbukitan.
Masjid yang tercatat telah berdiri sejak tahun 1599 ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Solok dan tertua kedua di Indonesia yang masih berdiri sampai saat ini. Salah satu keturunan pendiri masjid bahkan menyebut tahun 1419 Masehi sebagai awal pembangunan.
Dikutib dari laman resmi solokkab.go.id, Masjid Tuo Kayu Jao merupakan cagar budaya di Sumatra Barat dan diawasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.
Masjid ini telah beberapa kali mengalami pemugaran, meskipun telah beberapa kali dipugar, keaslian masjid ini masih tetap dipertahankan. Namun dalam pemugaran terakhir, warna cat masjid ini yang sebelumnya putih diganti menjadi coklat kehitaman.
Masjid ini juga memiliki bedug atau tabuah dalam bahasa setempat yang telah diberi bangunan cungkup pelindung dengan tiang kayu dan atap ijuk. Bedug ini sudah ada sejak masjid didirikan. Sedangkan pada arah kiblat masjid terdapat sebuah makam para pendiri masjid.
Masjid ini didirikan oleh dua tokoh ulama di Solok, Angku Masyhur dan Angku Labai pada tahun 1567. Mereka dibantu oleh masyarakat tiga nagari yaitu Kayu Aro, Kayu Jao, dan Lubuk Selasih. Angku Masyhur dikenal sebagai imam bersuara merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam bacaan salatnya sehingga banyak dikagumi orang. Angku Labai kerap bertindak sebagai bilal atau pelantun azan penanda masuknya waktu shalat.
Bangunan masjid memadukan ciri Islam dengan corak Minangkabau yang sangat kental. Atapnya yang bersusun tiga tingkat melambangkan tiga tungku sajorangan yang dalam budaya Minangkabau merupakan alim ulama, ninik mamak, dan kelompok cerdik pandai.
Pada puncak atap berbentuk limas yang di ujungnya diberi mestaka ini ditutupi anyaman ijuk setebal 15 sentimeter dan disusun pada kerangka bambu. Bentuk atap masjid sedikit cekung, dimaksudkan untuk mempercepat aliran air hujan menuju ke bawah.
Pada tiap bagian atap susun diberi pembatas dengan hiasan ukiran terawangan tembus bermotif geometris. Pembatas berukir ini dimanfaatkan juga sebagai ventilasi udara dan jalur masuk cahaya ke dalam masjid. Antara satu tingkat atap dan lainnya ada dua ukiran lingkaran seperti roda.
Ukiran unik juga dapat dijumpai pada keempat sudut dinding bagian luar dan permukaan beduk. Sedangkan tonggak dan pondasi masjid terbuat dari kayu jao yang dikenal kuat, keras, dan sangat alot.
Masjid berbentuk bujur sangkar ini tampak menjorok keluar pada bagian barat, ukurannya 2,1 meter x 3,5 meter dan beratap ijuk membentuk seperti tanduk atau dikenal sebagai gonjong. Tepat di bawah gonjong ini, yaitu di bagian dalam masjid berdiri sebuah mihrab, atau area imam memimpin salat dipadu sebuah mimbar dari kayu berukir motif sulur.
Sebanyak 27 tiang setinggi 15 meter dan sebuah tiang utama di bagian tengah bangunan yang disebut sebagai tiang macu. Ke-27 tiang tadi selain menjadi penyangga kokohnya masjid, sekaligus simbolisasi dari enam suku di kawasan masjid berdiri, ditambah empat unsur pemerintahan, serta tiga unsur agama yaitu khatib, imam, dan bilal atau pelantun azan.
Saat ini masjid selain tetap dipakai untuk beribadah, juga telah menjelma sebagai objek wisata religi masyarakat. Masjid ini oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Solok telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya bernomor 06/BCB.TB/A/15.2007. [Fath]
























