Moskow, Gontornews — Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov berjanji pembicaraan damai dengan Ukraina akan terus berlanjut bahkan ketika dia memperingatkan bahaya “nyata” dari konflik di Ukraina yang meningkat menjadi Perang Dunia Ketiga.
“Bahayanya serius, ini nyata, Anda tidak bisa meremehkannya,” kata Lavrov kepada kantor berita Interfax yang dikutip dw.com.
Menteri luar negeri juga mengatakan kepada televisi pemerintah Rusia bahwa Moskow ingin mengurangi kemungkinan “secara artifisial” risiko konflik nuklir.
“Ini merupakan posisi kunci kami sebagai pijakan segalanya. Risikonya sekarang cukup besar,” kata Lavrov.
Ketika ditanya apakah situasi saat ini di Ukraina sebanding dengan Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962, Lavrov mengatakan bahwa “saat itu sebenarnya hanya ada beberapa aturan, aturan tertulis.”
Namun, Lavrov mengatakan bahwa waktu itu, ada “aturan perilaku yang jelas” antara AS dengan Uni Soviet. Sementara pada konflik Ukraina saat ini, tidak ada komunikasi antara para pemimpin AS dan Rusia.
Lavrov juga mengkritik pendekatan Ukraina terhadap negosiasi menyusul invasi Rusia ke negara itu pada 24 Februari. Lavrov menuduh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky “berpura-pura” untuk bernegosiasi.
Dia mengatakan kepada kantor berita Rusia bahwa isi pembicaraan damai akan tergantung pada situasi militer.
Dia menambahkan, “Niat baik ada batasnya. Tetapi jika tidak timbal balik, itu tidak membantu proses negosiasi.”
“Kami terus melakukan negosiasi dengan tim yang didelegasikan oleh Zelenskyy, dan kontak ini akan berlanjut,” kata Lavrov.[]























