Sanaa, Gontornews — Seorang bayi kembar siam di Yaman dan membutuhkan perawatan lebih lanjut ke luar negeri, Kamis (7/2). Namun, perang yang tak kunjung usai di Yaman membuat orang tua dan kedua anak kembarnya tersebut tidak dapat pergi demi mendapatkan pengobatan lebih lanjut di luar negeri karena seluruh area bandara di Ibu Kota Yaman, Sanaa ditutup akibat perang.
Dokter yang menangani pasien dua anak kembar siam itu, Abd Al-Khaleq menjelaskan bahwa sistem serta infrastruktur kesehatan yang buruk pasca perang membuat kedua anak tersebut tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai sementara orang tuanya miskin.
“Mereka perlu segera melakukan perjalanan (berobat ke luar negeri). Mereka tidak akan dapat bertahan hidup di Yaman karena keadaan sosial, poltik dan ekonomi (yang tidak menentu) di negara ini,” ungkap Dokter Faisal al-Balbali, seorang dokter di rumah sakit Al-Thawra di Sana’a, Yaman, sebagaimana dilansir Reuters.
Sebagaimana diketahui dua orang bayi yang terlahir dengan memiliki kepala, paru-paru, jantung dan sistem pecernaan terpisah meski berada dalam satu tubuh. Selain itu, mereka juga harus berbagi, hati, organ reproduksi serta sepasang ginjal, lengan dan kaki secara besamaan.
“Bahkan, jika salah satu tidak sehat dan yang lain baik-baik saja. Penanganan terhadap pasien tersebut tentu bereda di setiap aspek,” kata al-Balbali.
Sejumlah dokter di RS Al-Thawra mendesak PBB dan organisasi kemanusiaan internasional untuk membantu pengobatan bayi kembar siam ini ke luar negeri. Meski tidak hadir dalam diskusi dengan dokter, pihak keluarga, terutama orang tua, setuju dengan pendapat dokter dan seketika mengundang rekan-rekan media untuk membantu menyoroti informasi tersebut.
Dari aspek kesehatan, dr Al-Balbali mengakui bahwa setelah dilakukan diagnosa serta pindai MRI di Yaman, pihak RS Al-Thawra di Yaman memutuskan untuk merujuk pasien ke rumah sakit yang memadai.
“ini adalah kasus yang jarang terjadi,” kata kepala RS Al-Thawra, dr Abd Al-Hakim Abu Taleb
Lebih lanjut, dr Abd Al-Hakim Abu Taleb menjelaskan bahwa sejak perang Yaman berkecamuk, banyak anak mengalami gizi buruk serta kurangnya obat-obatan. Tidak hanya itu, angka kelahiran cacat di Yaman pun meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Bandara di Sanaa sendiri telah ditutup untuk penerbangan sipil sejak tahun 2015 karena Pemerintah Yaman yang berkoalisi dengan Arab Saudi mengendalikan wilayah udara di Yaman. Praktis, hanay pesawat AS yang dapat mendarat di wilayah tersebut.
Beruntung, sejak perundingan damai antara Pemerintah Yaman dan kelompok militan Houthi, bandara di Sanaan kembali dibuka meski dalam kapasitas yang terbatas. Sejumlah pihak meminta agar bandara Sana’a dan pelabuhan Hodeidah dibuka kembali demi membuka akses bantuan kemanusiaan dari dunia internasional ke Yaman. [Mohamad Deny Irawan]





















