Terbatasnya akses transportasi, lambat masuknya arus listrik, tidak membuat keluarga almarhum Tanjeng putus asa. Baginya, pendidikan agama wajib disampaikan kepada seluruh masyarakat sejak dini. Meski dikelilingi hutan, Pondok Pesantren Ibnussabil akan terus berdakwah di bidang pendidikan di wilayah Santan Tengah, Kutai Kartanegara
Berawal dari semangat Tanjeng dan Hj Becce’tang dalam mendidik dan mengajarkan anak-anak mengaji Alquran secara tradisional, enam dari sembilan anaknya bertekad untuk mendirikan pesantren di wilayah Santan Tengah, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Tanjeng menyekolahkan putra-putrinya ke pondok pesantren demi mendapatkan pengalaman belajar di pesantren. Putra keempatnya, Dr Agus Tasbih, bersama putrinya yang ke-7, Salmiah, mendirikan asrama di atas tanah peninggalan almarhum.
“Pendidikan yang diterapkan di awal pendirian pondok ini masih sebatas bermukim dan pendidikan baca Alqruran, baik tilawah maupun tahfidz,” kata Pendiri Pondok Pesantren Ibnussabil, Ustadz Agus Tasbih, kepada Majalah Gontor.
“Sedangkan sekolah formal berada di luar pondok. Sehingga sistem pendidikan formal tidak berada langsung di bawah naungan pondok,” tambah Ustadz Agus.
Namun, karena terkena dampak pembangunan perusahaan tambang batubara, lokasi pesantren berpindah ke tempat lain. Karenanya pula, pendidikan pesantren pun sempat vakum dari tahun 2011 dan baru dibuka kembali pada tahun 2013.
Sejak dibuka kembali pada tahun 2013, Pesantren Ibnussabil hadir dengan wajah baru: tahfidz Alquran yang dipadukan dengan pembelajaran bahasa Arab ala Pondok Modern Darussalam Gontor.
Agus menambahkan, peran anak bungsu dari sembilan bersaudara, Mu’ammar Tasbih, dan istrinya, Lulu Al-Maknun Salim, dalam mentransfer ide pembelajaran bahasa Arab di Pondok Modern Darussalam Gontor sangat terasa. Keduanya merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor.
Agus juga menjelaskan, pendirian pesantren di daerah Santan Tengah tidak lepas dari keresahan atas minimnya akses pendidikan yang masuk kategori terbelakang. Ustadz Agus, misalnya, menggambarkan bahwa pada tahun 90-an, akses Desa Santan Tengah yang berada di hutan hanya bisa dilalui dengan kapal sebagai satu-satunya akses transportasi yang tersedia kala itu.
Listrik pun baru masuk Santan Tengah pada tahun 2013. Sepeda menjadi alat transportasi “paling mewah” di daerah tersebut. Akses pendidikan tertinggi kala itu pun baru setingkat madrasah aliyah.
“Rata-rata penduduk di wilayah tersebut hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar saja. Kalaupun ada yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka ia harus hijrah ke kota.”
“Kalau kita bicara tentang pondok pesantren, maka pondok kami adalah pondok pesantren pertama yang berada di wilayah Santan Tengah,” jelas Agus.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Ibnussabil, Mu’ammar Tasbih, menuturkan wilayah Santan Tengah sangat potensial dengan harga tanah yang masih terbilang murah serta luasnya wilayah. Masyarakat setempat pun amat mendambakan kehadiran pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam di daerahnya.
“Kehadiran pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas masih sangat dinanti oleh masyarakat. Pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan hampir tidak ada sehingga pembangunan unit usaha di wilayah tersebut sangat mendukung,” imbuh alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 2005 itu.
Mu’ammar menambahkan, sistem dan kurikulum yang digunakan oleh Pesantren Ibnussabil meliputi pelajaran-pelajaran berbahasa Arab, dirasah Islamiyah dasar dan tarbiyah. Sementara nilai-nilai, jiwa pondok, pergerakan dan disiplin pondok yang berlokasi di Jalan Adam Malik Dusun Handil Mico Gunung Desa Santan Tengah Marangkayu Kutai Kartanegara itu menginduk sepenuhnya kepada Gontor.
Hubungan pesantren dengan masyarakat sekitar sangat baik. Di awal pendirian pesantren, masyarakat sekitar membantu sesuai kemampuannya. Namun, sejumlah cobaan datang silih berganti dari masyarakat sekitar sehingga kesenjangan antara pondok dan masyarakat kerap terjadi.
Mayoritas penduduk Santan Tengah Muslim. Sementara suku Bugis menjadi suku mayoritas di wilayah tersebut. Karenanya, budaya, tradisi hingga adat istiadat kebanyakan masyarakat mengikuti tradisi dan kebudayaan Bugis.
“Potret pendidikan di Kalimantan Timur, khususnya, masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan yang ada di Pulau Jawa. Walaupun ada beberapa sekolah unggul di Kalimantan, keberadaan serta kontribusi pesantren di wilayah Kukar masih terbilang sangat minim.
Mu’ammar menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi oleh pondok pesantren keharusan untuk memiliki enam guru tetap sementara guru tetap yang tersedia baru dua orang. Namun, dalam dua tahun terakhir, pondok mendapatkan guru pengabdian dari Gontor sebagai penunjang kegiatan keseharian pondok.
Tantangan kedua adalah mencakup permasalahan dana. Saat ini, Pondok Pesantren Ibnussabil tidak memungut biaya sepeserpun dari para santri seperti biaya SPP maupun biaya makan.
Saat ini, Pondok Pesantren Ibnussabil memiliki 7 guru, 3 guru pengabdian dari Gontor dan 3 guru Pondok Modern Ibadurrahman Tenggarong. Sementara jumlah santri yang mondok di Pesantren Ibnussabil baru berjumlah 27 orang dengan 1 orang diproyeksikan sebagai alumni perdana.
Meski demikian, pondok terus berbenah untuk menghadapi tantangan. Saat ini, pesantren Ibnussabil memiliki beberapa unit usaha, seperti: isi ulang air minum, 1 petak tambak udang kurang lebih 15 hektare, jual beli kepiting bakau, serta 7 hektare lahan kosong yang kini ditanami semangka dengan sistem pinjam.
Mu’ammar melanjutkan bahwa kewajiban untuk menyampaikan ilmu agama dapat dilakukan di mana saja. Pria yang merupakan anggota Jam’iyyatul Qurra di Gontor tersebut yakin bahwa ilmu yang diterima oleh seseorang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
“Menyampaikan dan menyeru kepada kebaikan adalah kewajiban setiap Muslim, begitu juga dengan upaya mencegah kemunkaran. Dan hal itu kita mulai dari pendidikan,” papar Mu’ammar. [Mohamad Deny Irawan]


















