Pagi itu, Ahad (24/12/2020), pesan elektronik dari anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, H Danial Komarudin, menghampiri tim wartawan Majalah Gontor yang menghadiri silaturahim alumni Pondok Modern Darussalam Gontor 1980, Sosyc, di Hotel Bumi Gumati, Sukaraja, Kabupaten Bogor. Dalam pesannya disampaikan bahwa terdapat pondok pesantren alumni Gontor dekat lokasi silaturahim Sosyc 1980, yang sedang mengadakan Panggung Gembira (PG). Namanya Pondok Pesantren Modern (PPM) Ar-Ridho, Sentul.
Kami pun segera bergegas menuju lokasi. Selama perjalanan, kami bertanya-tanya, apa benar Pesantren Ar-Ridho mengadakan Panggung Gembira pada pagi hari? Jawabannya pun tersaji setibanya kami di lokasi.
“Panitia Panggung Gembira santri kelas 6. Hanya saja, ragam rangkaian acara Panggung Gembira (PG) melibatkan seluruh santri,” tutur staf Pengasuhan Santri PPM Ar-Ridho, Sentul, Achmad Said Arwani, kepada Majalah Gontor.
Said menjelaskan, seharusnya pelaksanaan PG tahun ini dilaksanakan pada Sabtu (23/1/2021) malam. Tetapi karena pandemi Covid-19 dan belum ada izin dari Satuan Tugas Covid-19 Kecamatan Sukaraja, pelaksanaan PG Ar-Ridho digelar pukul 08.00 pagi hingga pukul 12.00 siang.
“Sebelumnya dijadwalkan tadi malam. Setelah kami meminta izin ke Satgas Covid-19 Kecamatan Sukaraja, Kapolsek, ternyata tidak diizinkan karena ada disiplin baru, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat),” tutur alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2011 itu.
“Akhirnya, mereka mengizinkan. Tapi PG harus dilaksanakan pada pagi hari dan tetap mematuhi protokol kesehatan,” imbuhnya.
Selain dilaksanakan pada pagi hari, PG Ar-Ridho juga tidak dihadiri oleh wali santri. “Kami tidak mengundang tamu, wali santri dan warga sekitar. Jadi, acara PG kali ini hanya untuk internal santri dan para guru,” ujarnya.
Belajar dari Gontor
Berawal pada tahun 1980-an, KH Asmuni bin H Rohili mendirikan Yayasan Ar-Ridho Palmerah, Jakarta Selatan, untuk terus berjuang mensyiarkan Islam melalui jalur pendidikan. Pada fase awal, Yayasan Ar-Ridho menggandeng lembaga pendidikan modern yakni Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar dengan membuka program Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Alhamdulillah, (kedua satuan pendidikan tersebut) masih eksis sampai saat ini,” ungkap Pimpinan Ar-Ridho, Ir KH Hudori MSc.
Tidak berhenti sampai di situ, ekspansi dakwah pendidikan Yayasan Ar-Ridho terus berjalan. Kali ini, Kiai Asmuni bertekad untuk mengembangkan pondok pesantren yang mengajarkan ilmu pendidikan dan pengajaran agama dan umum secara seimbang. Kiai Asmuni bermusyawarah dengan pihak yayasan sekaligus dengan putranya, Kiai Hudori.
Setidaknya ada dua hal yang disepakati dalam pertemuan tersebut: 1) Pesantren tersebut didirikan di atas tanah yang baru dibebaskan di daerah Bogor, tepatnya di Kampung Parung Aleng Desa Cikeas Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor (berdekatan dengan Sentul City); 2) Pesantren yang akan didirikan harus berkiblat ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.
“Karena Pondok Modern Darussalam Gontor telah terbukti sukses mencetak kader-kader pemimpin yang menguasai ilmu pendidikan agama dan umum secara seimbang,” ujar Kiai Hudori mengenang hasil musyawarah Yayasan Ar-Ridho bersama ayahanda Kiai Asmuni.
Pascamusyawarah dan amanat dari Kiai Asmuni, Kiai Hudori memberanikan diri untuk bertemu dengan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, (alm) Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi, pada tahun 2011. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Syukri berkenan untuk meninjau lokasi pendirian pesantren yang terletak di 8,6 km sebelah barat kawasan Sentul City.
Kiai Syukri pun berpesan kepada pendiri Ar-Ridho untuk ikhlas dan mau berkorban terutama saat menyampaikan program-program rencana pembangunan yang dibutuhkan. Putra pendiri Gontor, KH Imam Zarkasyi, tersebut juga berpesan kepada pendiri Ar-Ridho untuk menyiapkan kader-kader dari keluaga pondok.
“Kalau hanya ingin belajar agama saja di pesantren, jangan ke Gontor. Tetapi, kalau ingin belajar dan mendapatkan pendidikan tentang kepemimpinan dan agama, silakan ke Gontor,” tutur Kiai Hudori menirukan pesan Kiai Syukri kepada Kiai Asmuni.
PPM Ar-Ridho Sentul menjadikan sistem Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) sebagai sistem pendidikannya. Sistem pendidikan ini memungkinkan pihak pondok untuk memberikan pendidikan 24 jam kepada santri baik di dalam maupun di luar kelas.
Tak berhenti di situ, PPM Ar-Ridho juga memadukan sistem KMI dengan kurikulum Kementerian Agama untuk tingkat wustha dan Kemendikbud untuk tingkat Ulya, sekalipun secara praktik, sistem pendidikan KMI yang lebih mendominasi.
Selain kegiatan formal di dalam kelas, Ar-Ridho juga memiliki sejumlah kegiatan ekstrakurikuler. Sebut saja misalnya: basket, futsal, senam, badminton dan tenis meja. Ada pula gangstar, gabungan santri kreatif berseni, musik dan silat. Pun dengan kursus bahasa seperti Istirqo dan LCD.
“Ekstrakurikuler paling unggul di PPM Ar-Ridho yaitu silat, pramuka dan senam lantai,” ujar Said.
Sejak berdiri pada tahun 2012, jumlah santri PPM Ar-Ridho terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun pertama, Ar-Ridho memiliki 17 santri, pada tahun kedua, jumlah tersebut bertambah menjadi 70 santri. Tahun ketiga, bertambah menjadi 150 santri. Tahun keempat, bertambah menjadi 250 santri, tahun ke enam bertambah 350 santri. “Alhamdulillah, untuk tahun ajaran 2020-2021, Ar-Ridho mendidik 507 santri,” papar Said.
Saat ini, lahan PPM Ar-Ridho mencapai 40 hektare. Dengan lahan seluas itu, Ar-Ridho telah membangun sejumlah sarana prasarana penunjang pendidikan seperti asrama, madrasah, Guest House sebagai tempat penginapan, lapangan basket, lapangan futsal outdoor, arena bermain out bound, flying fox, persawahan serta lahan parkir.
Dalam proses pembangunannya, Ar-Ridho mendapatkan respons yang baik dari masyarakat. Awalnya, masyarakat sekitar bersyukur karena putra-putrinya dapat mengikuti pendidikan TPA. Hingga saat ini, banyak putra daerah Sentul yang menjadi kader PPM Ar-Ridho termasuk mereka yang melanjutkan studi perguruan tinggi di Universitas Darussalam Gontor.
Perpaduan sistem pendidikan antara KMI, Kemeterian Agama, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rupanya mewarnai program pendidikan dan pengajaran di Ar-Ridho. “Perubahan kebijakan (Kemenag dan Kemendikbud) akan berpengaruh terhadap pelaksanaan program pendidikan dan pengajarannya,” kata Kiai Hudori.
“Era milenial sangat mempengaruhi kehidupan santri. Para santri harus memperkuat ibadah dan kesadaran untuk menyesuaikan keadaan tersebut tanpa mengurangi kualitas pesantren itu sendiri,” tutup Kiai Hudori. [Mohamad Deny Irawan]


















