Algiers, Gontornews — Presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune, guru besar sekaligus mantan diplomat, Abdelaziz Djerad, sebagai Perdana Menteri Aljazair yang baru. Presiden Tebboune berharap PM Djerat dapat membangun pemerintahan baru yang mampu menangani kerusuhan politik serta tantangan ekonomi memburuk yang melanda Aljazair.
Sebagaimana dilansir Reuters, Abdelaziz Djerad bukanlah sosok asing di lingkungan pemerintahan Aljazair. Djerad sempat bertugas sebagai staf administrasi presiden pada tahun 1990-an sebelum disingkirkan oleh Presiden Abdelaziz Bouteflika.
Bouteflika pun disingkirkan dari kursi kepala negara setelah digulingkan para demonstran pada April 2019 lalu setelah dua dekade memimpin negara yang terletak di Afrika Utara tersebut.
Gerakan protes besar-besaran yang menyebabkan Bouteflika lengser dari kursi Presiden Aljazair juga menganggap terpilihnya Persiden Abdelmadjid Tebboune tidak sah. Para demonstran berdalih bahwa setiap pemilihan berlangsung juga melibatkan faksi militer yang diduga berafiliasi dengan Presiden Bouteflika.
Otoritas Aljazir pun berujar jika protes terbuka yang terjadi di jalan-jalan merupakan gerakan patriotik untuk menyegarkan politik Aljazair serta mengakhiri korupsi.
Untuk mendinginkan situasi, Djerad berulang kami menyampaikan di radio bahwa dirinya akan mengikuti apa yang diinginkan oleh rakyat sembari menuntut kroni-kroni ex Presiden Bouteflika untuk berhenti berkuasa di Aljzair.
Tebboune juga menjadi salah satu dari lima pejabat senior yang ditunjuk sebagai kandidat Persiden menggantikan Bouteflika. Tebboune berhasil meraih 58 persen suara dalam pemilihan yang berlangsung 12 Desember yang lalu. Meski demikian, para demonstran menganggap bahwa pemilihan itu tidak sah karena jumlah pemilih hanya mencapai 40 persen saja.
Pihak oposisi di parlemen pun mengakui bahwa kekuatan ‘asli’ Aljazair tetap berada di tangan militer meski Tebboune sudah ditunjuk sebagai Presiden Aljazair yang baru. Selain penunjukan Presiden dan Perdana Menteri, parlemen Aljazair juga berupaya untuk segera menunjuk kepala militer yang baru setelah kepala militer sebelumnya, Ahmed Gaed Salah, meninggal akibat serangan jantung, Senin (23/12). [Mohamad Deny Irawan]



















