Jakarta, Gontornews – Tantangan dalam mendidik anak di era modern menuntut kesiapan mental dan spiritual yang matang dari para orang tua. Seringkali, perilaku anak yang dinilai kurang baik merupakan refleksi dari pola pengasuhan di rumah, sehingga perbaikan diri serta pengelolaan emosi orang tua menjadi langkah paling krusial sebelum menuntut kedisiplinan pada anak.
Hal tersebut diungkapkan oleh edukator dan peneliti bidang parenting, Karina Hakman (Teh Karin), dalam bincang siniar (podcast) di kanal YouTube Sabrina Anggraini.
Menurutnya, berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci dan condong kepada kebaikan).
“Ketika melihat seorang anak melakukan kesalahan, hal pertama yang harus diintrospeksi yaitu orang tuanya, baru kemudian melihat lingkungan sekitar. Sebab, orang tualah yang memegang kendali penuh atas arah pendidikan dan lingkungan tempat anak bertumbuh,” ujar Karina.
Ia menambahkan, pentingnya menghindari kemarahan dalam mendidik anak. Namun sebagian orang tua berpikir bahwa menjadikan amarah sebagai cara instan untuk mendisiplinkan anak.
Padahal, dalam pandangan Islam, kemarahan bukanlah metode yang dibenarkan dalam proses pendidikan. Disiplin yang lahir dari rasa takut akibat sering dimarah-marahi justru berpotensi memicu anak menjadi pembangkang saat mereka beranjak remaja.
Rasulullah SAW telah meneladankan pentingnya kelemahlembutan (rifq) dalam mendidik. Keteladanan, komunikasi yang penuh kasih sayang (secure attachment), serta penanaman pemahaman tauhid yang kuat menjadi fondasi utama agar anak dapat taat dan beribadah atas kesadaran intrinsik, bukan karena paksaan.
Skala Prioritas dan Hakikat Muhasabah
Lebih lanjut, Karina mengingatkan agar para orang tua, khususnya dari kalangan milenial dan Gen Z tidak mengabaikan hak diri sendiri dan hubungan spiritual kepada Allah SWT di tengah kesibukan mengurus keluarga.
Berdasarkan rujukan ulama dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, skala prioritas seorang Muslim harus senantiasa terjaga: mendahulukan hak Allah, memperbaiki diri sendiri (ruhiyah dan fisik), baru kemudian mengurus keluarga dan masyarakat.
“Kunci utama dalam mengelola amarah yaitu dengan memperbarui niat karena Allah, membentengi diri dengan ta’awudz dan wudhu saat emosi memuncak, serta terus belajar memperbaiki diri tanpa harus merasa putus asa atas proses yang sedang dijalani” ungkapnya. [Ika]
























