Jakarta, Gontornews — Legenda wartawati pertama di Indonesia itu lahir dari bumi Sumatera Barat, dia adalah Rohana Kudus. Tulisan yang produksi dua kali dalam sepekan bernas dan tajam yang banyak mengupas masalah hak-hak perempuan.
Rohana perempuan cerdas yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sejak kecil Rohana tak pernah mengenyam pendidikan formal. Tapi tingkat intelegensi, ketegasan dan kegigihannya berjuang untuk perempuan diakui oleh dunia internasional di zaman kolonial Belanda.
Salah satu media perjuangan yang digunakan Rohana adalah Soenting Melajoe. Koran yang ia dirikan bersama Mahyuddin Datuk Sutan Maharaja.
Putri dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja dan Kiam yang lahir tahun 1884 ini memang lahir dari keluarga berada, ayahnya Rasjad bekerja untuk pemerintah kolonial di kantor kejaksaan. Sosok ayahnya yang berpendidikan inilah yang menjadi modal bagi Rohana sejak kecil untuk tumbuh menjadi perempuan yang cerdas.
Diusianya yang ke 17 tahun, Rohana sudah ditinggal ibu kandungnya, Kiam, sejak kecil selalu ikut ayahnya yang dinas di luar Koto Gadang tepatnya di Simpang Tanang Tolu, Kabupaten Pasaman.
Di zaman itu, pendidikan menjadi suatu hal yang mahal, terlebih lagi untuk anak perempuan. Sejak balita, Rasjad mengajarkan Rohana membaca huruf latin dan Arab. Di mana ia selalu memberikan bahan-bahan bacaan kepada Rohana. Ketika baru berusia tujuh tahun, Rohana sudah menjadi pusat perhatian bagi teman-teman bermainnya karena ia pandai membacakan cerita.
Ketika Rohana sudah berusia 17 tahun, ia harus tingggal dengan sanak familinya di Koto Gadang karena ayahnya mulai dinas di Kota Medan Sumatera Utara.
“Rohana cilik tumbuh menjadi remaja putri cantik dengan cakrawala berpikir luas. Ia semakin paham kondisi perempuan di negerinya,” tulis Fitriyanti dalam buku Wartawan Perempuan Pertama Indonesia, Rohana Kudus.
Rohana yang juga mendapatkan ilmu agama dari pengajian-pengajian Islam sejak kecil membuatnya paham kalau sebenarnya agama Islam tidak pernah membenarkan pengekangan terhadap kaum perempuan. Karena itulah, tekad Rohana untuk memperjuangkan hak kaum perempuan di Koto Gadang dan Sumbar secara umumnya semakin bulat.
Awalnya Rohana memperjuangkan kaum perempuan dengan mengajarkan keterampilan menjahit dan menenun disamping mengajarkan baca tulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Rohana mewadahi perempuan Koto Gadang di Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang ia dirikan atas dukungan suaminya, Abdul Kudus.
Bisnis kain tenun yang dijalankan Rohana di KAS mendapatkan respon yang baik dari pemerintah kolonial Belanda. Jadinya hasil kerajinan KAS menembus pasar Eropa.
Sementara untuk mendirikan Soenting Melajoe, Rohana mendapatkan jaringan internasional karena bisnis kain tenun. Dari situ ia semakin banyak mendapatkn lebih banyak lagi informasi tentang kemajuan kaum perempuan di Eropa.
Setelah berdiskusi dengan suaminya Abdul Kuddus yang juga aktivis pergerakan, Rohana terpikir untuk mendirikan surat kabar. Tujuannya untuk menginpisrasi kaum perempuan di Sumbar dan Indonesia agar tak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk menjadi insan terpelajar.
Keinginan Rohana untuk mendirikan surat kabar mendapat dukungan dari pimpinan Warta Berita Mahyuddin Datuk Sutan Maharajo. Surat kabar yang didirikan Rohana bersama Dt. St Maharajo bernama Soenting Melajoe. Koran ini pertama kali terbit pada 10 Juli 1912. Sutan Maharajo menjadi pemimpin umum, Roehana menjadi pemimpin redaksi dan Zahara Ratna Djuita yang merupakan putri Dt Sutan Maharajo menjadi editor.
Pada awalnya Soenting Melajoe hanya memuat konten tentang perempuan. Tapi pada perkembangannya, surat kabar itu juga membuat isu-isu umum seperti politik, ekonomi dan kriminal.
“Tulisan Rohana menembus batas jarak, status sosial, agama, suku bangsa dan negara. Wawasannya semakin luas. Ia bahkan sampai mendorong agar kaum perempuan terjun untuk organisasi pergerakan dan percaturan politik,” tulis Fitriyanti.
Rohana meninggal di Jakarta pada 17 Agustus 1972, 27 tahun pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak. Pada tahun 1974, pemerintah daerah Sumatera Barat memberikan penghargaan kepadanya sebagai Wartawati Pertama. Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1987 dan Bintang Jasa Utama pada tahun 2007.
Sejak 7 November 2019, pemerintah Indonesia mendeklarasikan Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 120/TK/2019. [Fath]






















