Ouagadougou, Gontornews — Sejumlah serangan dilaporkan telah terjadi di Ouagadougou, ibukota negara Burkina Faso, Afrika Barat.
Pasukan kepolisian nasional mengonfirmasi pada hari Jumat bahwa serangan sedang terjadi di daerah dekat kantor perdana menteri dan bundaran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Polisi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan sedang berlangsung.
Sebuah pernyataan pemerintah mengatakan empat penyerang telah dibunuh oleh pasukan keamanan. Operasi sedang berlangsung di wilayah itu.
Pihak berwenang menyarankan warga untuk menjauh dari daerah tersebut.
Media Prancis mengonfirmasi bahwa kedutaan Prancis juga diserang. Namun seorang pejabat kemudian mengatakan, bangunan tersebut tidak lagi dalam bahaya.
Sebelumnya pada hari itu, ada laporan tentang sebuah ledakan dan tembakan di dekat markas tentara nasional, tidak jauh dari Institut Prancis.
Foto online menunjukkan asap hitam membumbung di pusat kota.
Tidak jelas apa yang menyebabkan ledakan tersebut, meski seorang saksi di lokasi kejadian mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa orang-orang bertopeng bersenjata menyerang penjaga di markas militer setelah ledakan tersebut.
Kantor perdana menteri Burkina Faso mengatakan dalam sebuah pernyataan di Facebook bahwa gedung perdana menteri tidak diserang.
Di Twitter, Jean-Marc Chataigner, duta besar Prancis untuk Sahel, menyebut insiden tersebut sebagai “serangan teroris”.
“Solidaritas dengan rekan dan teman di Burkina Faso,” tambah Chataigner.
Kedutaan Besar AS di ibukota juga men-tweet bahwa orang harus menghindari pusat kota Ouagadougou dan “mencari tempat berlindung yang aman”.
Burkina Faso adalah salah satu dari sejumlah negara di Sahel – sebuah wilayah yang melintasi Afrika Tengah dan Barat – yang memerangi kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Bulan lalu, Uni Eropa mengumumkan akan melipatgandakan dana untuk pasukan militer G5 Sahel, yang bertujuan untuk memerangi kelompok bersenjata di seluruh wilayah. Pasukan tersebut terdiri dari tentara Burkina Faso, Mauritania, Mali, Niger dan Chad.
Pada tahun 2015, penjaga kepresidenan Burkina Faso (RSP) berusaha menggulingkan mantan Presiden Michel Kafando.
Pengadilan terhadap 84 orang yang diduga terlibat dalam kudeta yang gagal tersebut, seharusnya dimulai awal pekan ini namun ditunda sampai pemberitahuan lebih lanjut. Ini setelah pengacara pembela keluar dari pengadilan beberapa jam setelah persidangan dimulai.[Rusdiono Mukri]
























