Gaziantep, Gontornews — Gencatan senjata di Suriah telah diberlakukan setelah pemerintah dan beberapa kelompok oposisi bersenjata menerima kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia dan Turki.
Gencatan senjata yang mulai diberlakukan Kamis (29/12) pukul 12:00 waktu setempat (22:00 GMT), itu akan diikuti oleh perundingan perdamaian yang akan berlangsung di ibukota Kazakhstan, Astana, dalam waktu satu bulan ke depan.
Turki dan Rusia telah berjanji untuk bertindak sebagai penjamin demi menghentikan permusuhan yang telah berlangsung lebih dari lima tahun itu.
Selama ini, upaya-upaya untuk mengakhiri perang sipil Suriah, yang bermula dari gerakan demonstrasi tanpa senjata terhadap Presiden Bashar al-Assad, Maret 2011, yang didukung PBB, selalu gagal dan sering menyebabkan pertempuran sengit.
Menurut sebuah laporan, kelompok ISIS dan kelompok Jabhat Fateh al-Sham [Front al-Nusra] tidak diikutsertakan dalam gencatan senjata ini.
Charles Stratford dari Al Jazeera yang melaporkan dari Gaziantep, Turki yang berbatasan dengan Suriah, ada harapan tinggi terhadap gencatan senjata ini. Namun, ada kekhawatiran gencatan senjata ini terganggu oleh serangan-serangan udara yang menargetkan Jabhat Fateh al-Sham, yang sering berperang bersama sejumlah penandatangan perjanjian. [Rusdiono Mukri]


















