Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB Dr Irfan Syauqi Beik mengatakan 2018 bisa menjadi tahun penuh tantangan untuk prospek keuangan syariah. Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena 2018 menjadi momen untuk perkembangan kondisi politik yang semakin tinggi. Menurutnya, dalam menghadapi tahun politik yang penuh tantangan ini, industry keuangan syariah perlu mengkomunikasikan lebih dalam mengenai ide-ide pengembangan keuangan syariah kepada para kontestan politik.
“Tantangannya adalah bagaimana mengkomunikasikan gagasan-gagasan keuangan syariah agar dipahami calon pejabat public supaya menjadi tema sekaligus janji kampanye dan kalau terpilih mereka memperjuangkan gagasan keuangan syariah ini supaya bisa direalisasikan. Berikutnya, kita harus menjaga beberapa proses yang akan menguntungkan keuangan syariah,”jelasnya kepada Majalah Gontor.
Sebagai contoh proses yang perlu dijaga, kata Irfan, misalnya seperti NTB. “Rencana konversi Bank NTB yang konvensional menjadi full fledge syariah menjadi Bank Umum Syariah seperti konversi Bank Aceh saya kira harus kita jaga. Jangan sampai Gubernur NTB kemudian menjadi gamang di tahun terakhir kepemimpinannya dan malah tertunda. Jangan sampai seperti itu. Ini yang saya kira harus kita jaga beberapa momentum penguatan keuangan syariah,”paparnya.
Irfan menilai secara umum industry keuangan syariah Indonesia akan tumbuh di tahun 2018 ini. “Saya optimis bisa mencapai angka 9 persen di tahun 2018. Saya juga berharap kalau konversi Bank NTB ini lancar, maka asset perbankan syariah akan menembus 6 persen. Sekarang ini asset perbankan syariah Indonesia baru 5,3 persen dan keuangan syariah Indonesia perlu terobosan untuk mendokrak total asset yang ada pada saat ini,”ungkapnya.
Adapun sektor keuangan syariah lain yang juga akan terus tumbuh, kata Irfan, adalah industry pasar modal syariah. Apalagi dilihat dari milestone pengembangan pasar modal syariah tahun 2017 merupakan tahun bersejarah. “Karena untuk pertama kalinya kita memiliki manajer investasi yang full fledge syariah. Kan selama ini kalau bicara manajer investasi semuanya itu perusahaan konvensional tetapi memiliki produk syariah,”jelasnya.
Di sisi lain industry keuangan syariah juga memiliki paytren asset manajemen yang menjadi MBS pertama di Indonesia. “Dan ini kan teraviliasi dengan paytren yang payment gatway sistem. Mereka sudah memiliki 1,8 juta member, kalau di tahun 2018 ini sepertiga member paytren ikut menjadi investor aktif di reksadana syariah, maka total investor akan naik dua kali lipat,”ucapnya.
Lanjut Irfan membeberkan bahwa total investor reksadana secara keseluruhan ada sekitar 500 ribu orang. Namun, investor syariah baru ada sekitar 20-30 ribu orang. Kalau misalnya sepertiga atau 500-600 ribu member paytren jadi investor maka dia akan langsung menaikan total investor syariah. “Itu sekaligus menjadi seimbang antara konven dan syariah. Nah ini saya kira momentum 2018 untuk reksadana ini cukup berpeluang apalagi didukung oleh kinerja saham syariah yang cukup baik. Kinerja JII juga cukup baik,”imbuhnya.
Secara umum keuangan syariah akan tumbuh dengan atau tanpa dukungan politik, karena ini adalah gerakan yang murni bottom up dan faktanya sejak 1992 sudah melewati enam kepemimpinan presiden. “Kita insya Allah akan terus tumbuh. Tetapi kita tentu berharap tidak hanya puas dengan pertumbuhan yang ada tapi juga bagaimana kita dorong lebih kuat lagi melalui penguatan kebijakan, dan regulasi yang antara lain mudah-mudahan tercermin dari komitmen kampanye para calon kepala daerah dan anggota legislative,”pungkasnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]


















