Depok, Gontornews — Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Cabang Depok pada Ahad (1/3/2026) sukses menggelar Tausiyah Ramadhan dengan tema “Bulan Ramadhan Sebagai Bulan Parenting Rabbani”. Lembaga pendidikan Matematika dan Sains dengan metode seikhlasnya ini pun menghadirkan seorang pembicara terbaik yakni Ustadz Abdul Aziz SPi.
Kegiatan yang diselenggarakan secara online tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan diperuntukkan bagi guru, orang tua murid, juga masyarakat umum. Selain diisi dengan paparan seru dari pemateri, pada kesempatan tersebut juga turut dimeriahkan dengan beberapa hadiah menarik untuk peserta yang beruntung.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Abdul Aziz menguraikan, “Parenting Rabbani merupakan serangkaian aktivitas orang tua secara sadar, terencana, dan berkelanjutan ke anak untuk menumbuhkan iman, akal, akhlak, fisik, keterampilan, juga mengembangkan potensi dan karakter sesuai nilai-nilai ketuhanan.” Tujuannya agar mereka (anak-anak) memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini yang membedakan antara parenting yang biasa dan Rabbani, dimana ada landasannya yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta tujuannya.
Disebutkan dalam al-Qur’an Surat at-Tahrim ayat enam, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Di dalam sebuah Hadis juga disampaikan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kepada Gontornews.com, Koordinator Kurikulum dan Kesiswaan Pondok Pesantren Amal Jamai Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini pun menjelaskan poin-poin dalam Kitab, Tarbiyatul Aulaad fil Islam karya Dr Abdullah Nashih Ulwan yang berisi pertama, pendidikan iman itu menanamkan dasar-dasar akidah, rukun iman, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW sejak dini.
Kedua, pendidikan akhlak membersihkan anak dari sifat-sifat buruk (bohong, iri, sombong) dan membiasakan kejujuran serta sifat amanah. Ketiga, pendidikan fisik (kewajiban memberi nafkah halal, menjaga kesehatan anak, serta memberi waktu untuk berolahraga untuk kesehatan).
Keempat, pendidikan intelektual (kewajiban memberi pengajaran ilmu agama dan pengetahuan umum yang bermanfaat). Kelima, pendidikan psikis atau jiwa (memberi rasa aman, kasih sayang, dan tidak membanding-bandingkan anak agar memiliki kepercayaan diri yang sehat).
Sang pemateri kemudian menjelaskan akan pentingnya al-Iman qabla al-Qur’an (iman sebelum al-Qur’an) dan al-Adab qabla al’Ilm (adab sebelum ilmu). Karenanya, cara menghadirkan iman yaitu dengan menjadikan rumah sebagai ruang kesadaran akan hadirnya Allah muraqabatullah, menjadikan Allah tempat curhat pertama, juga menghadirkan Allah dalam fenomena alam.
Ia juga berpesan bahwa anak merupakan peniru ulung, orang tua tidak bisa mengajarkan adab, jika ia sendiri tidak mempraktikkannya. Iman tumbuh saat anak melihat orang tuanya tenang saat menghadapi masalah karena bersandar pada Allah.
“Terakhir, sinergi dengan mitra pendidikan anak,” pungkas Ustadz Abdul Aziz. Pendidikan anak-anak akan semakin sempurna dengan kerjasama yang solid antara orang tua dan para guru di sekolah.” [Edithya Miranti]
























