Florida, Gontornews – Upaya tim riset terpadu mengembangkan vaksin AIDS menemukan titik terang. Sebuah rekayasa molekuler protein pada struktur sel B diyakini berpotensi membuat antibodi HIV secara alami dalam tubuh manusia.
“Kami menemukan bahwa hampir semua orang memiliki sel B yang merupkan prekursor antibodi yang andal dapat menetralisir infeksi secara luas. Rekayasa molekuler pada protein tertentu pada sel tersebut ternyata dapat memproduksi antibodi alami yang mampu meredam kegananan serangan virus human immunodeficiency virus (HIV),’’ ungkap William Chief, Direktur The Scripps Research Institute (TSRI) seperti dikutip Vaccinenews Daily.
William Chief memimpin tim riset gabungan yang melibatkan para peneliti dari TSRI, International AIDS Vaccine Initiative (IAVI) dan La Jolla Institute for Allergy and Immunology di Florida. Ketiga lembaga riset yang berbasis di Florida tersebut didaulat melakukan riset senilai 6 juta dollar AS dengan target pembuatan vksin HIV/AIDS yang efektif.
Upaya pembuatan vaksin HIV/AIDS sebenarnya sudah lama dilakukan para ilmuwan. Namun sejauh ini belum ada yang membawa hasil memuaskan. Salah satu sebabnya adalah adanya mutasi virus yang lajunya lebih cepat ketimbang pembuatan vaksin. Atas dasar itu, tim gabungan berupaya mengatasi masalah tersebut dengan melakukan rekayasa biologi molekuler pada struktur sel yang umumnya berupa ikatan lipo-protein..
Hasilnya cukup membawa harapan. Memasuki bulan ke delapan, mereka berhasil membuat terobosan penting. Inovasi tingkat molekuler pada ikatan protein tertentu dapat merangsang sel-sel B mampu membuat antibodi alami. Anti bodi itu ditengarai amat potensial mampu menetralisir mutasi virus maupun keganasan infeksi AIDS.
Yang menggembirakan adalah fakta bahwa beberapa orang yang memiliki infeksi HIV dapat secara alami menghasilkan antibodi yang efisien dalam menetralisir aksi strain virus HIV yang berbeda akibat cepatnya mereka bermutasi.
Dengan penemuan tersebut, para ilmuwan optimis dapat membuat vaksin yang efektif dan efisien. Untuk itu, tim masih menunggu hasil uji klinis pada para pasien AIDS di beberapa lokasi.
“Tantangan bagi pengembang vaksin adalah bagaimana menentukan secara spesifik apakah suatu imunogen dapat menyajikan reaksi yang konsisten ketika protein tertentu diaktifkan dan virus HIV berbiak,’’ tegas Shane Crotty, profesor biologi molekuler di La Jolla Institute.
Dia percaya, ‘’dengan menggunakan teknik baru, kami mampu menunjukkan hasil riset yang membawa harapan banyak pihak, termasuk pengidap HIV/AIDS di mana pun.[Dedi Junaedi]

























