Saat ini ia bekerja sebagai pengemudi transportasi umum berbasis aplikasi online di Jakarta. Seorang suami dan ayah bagi dua buah hati. Karena pertimbangan ekonomi, ia hidup terpisah dari kedua anaknya. Setiap pekan, ia rutin bolak-balik Jakarta-Solo naik kereta api untuk memeluk hangat kedua putranya.
Langit pada Jumat (24/06) pagi masih berwarna abu-abu. “Jumat ini saya harus memastikan takjil sebanyak 577 paket bisa selesai tepat waktu. Jam dua siang harus sudah dikirim sampai di Stasiun Senen. Amanah dari kawan-kawan harus benar-benar saya pegang erat,†ucapnya.
Pengemudi berbasis aplikasi itu memang tengah menyiapkan 577 paket makanan takjil buka puasa yang akan dibagikan oleh komunitas Pulang Jumat Kembali Ahad atau yang biasa disebut dengan PJKA di kereta Brantas jurusan Pasar Senen-Kediri pada Jumat (24/6) sore.
Toni merupakan salah satu pegiat aktif komunitas yang menyatukan para penglaju pekanan jarak jauh itu. Ia dibantu beberapa anggota PJKA lainnya, di antaranya Zulfikri dan Bambang. Ia sendiri kebagian tugas sebagai koordinator takjil.
Pria 34 tahun itu menuturkan, ide awal kegiatan bagi-bagi takjil di kereta itu termotivasi dari hadis yang menyampaikan keutamaan memberi buka puasa dan terinspirasi dari sebuah foto takjil di Masjid Jogokaryan, Yogyakarta, yang menjadi viral.
“Pertama, siapa yang tidak mau coba memperoleh pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa hanya dengan melakukan sebuah langkah sederhana, yaitu memberi buka puasa,†ujarnya.
“Kedua, kami melihat sebuah foto makanan takjil di Masjid Jogokaryan yang disiapkan oleh masyarakat sekitar masjid dengan guyub rukun dengan alasan bahwa mereka ingin kecipratan keberkahan saat memberi buka puasa. Bagi kami itu inspiring dan kami bisa mencontohnya di kereta,†tambah pria yang tinggal di kawasan Pisangan, Jakarta Timur, itu.
Toni menjelaskan, hampir seluruh anggota komunitas PJKA setiap Jumat melakukan perjalanan jarak jauh dari Jakarta menuju kota asalnya dengan naik kereta. Perjalanan itu harus melewati waktu berbuka puasa. Karena itu, sangat tepat jika komunitas PJKA menggelar kegiatan bagi-bagi takjil di kereta api karena seringkali banyak penumpang yang kesulitan mendapatkan makanan buka puasa.
“Kalau kita di kereta api, lalu waktu berbuka puasa sudah masuk, mau buka kan nggak mudah, mau turun tidak bisa karena kereta masih berjalan, mau beli di restorasi antre dan makanan terbatas serta mahal, sementara tak sedikit yang lupa membawa bekal makanan,†urainya.
Ide berbagi takjil pun digulirkan di komunitas Paguyuban PJKA. Menurut Toni, ternyata ide itu disambut hangat seluruh anggota Paguyuban PJKA. Donasi pun mengalir lancar hingga terkumpul total Rp 4.050.000. Dana sebesar itu mampu untuk membeli lebih dari 1000 paket menu takjil.
“Takjil kita bagikan setiap hari Jumat karena pertimbangan setiap Jumat teman-teman PJKA rutin pulang naik kereta. Pertama kita bagikan pada tanggal 10 Juni, kedua tanggal 17 Juni, dan terakhir tanggal 24 Juni 2016,†tuturnya.
Sementara itu menurut koordinator lapangan kegiatan bagi-bagi takjil, Zulfikri, pembagian takjil yang diberi nama ‘Takjil On The Train’ ini selain untuk memberikan kemudahan berbuka bagi penumpang Muslim yang menjalankan puasa dalam perjalanan, juga sebagai pembelajaran untuk saling berbagi.
“Ini juga kami jadikan ajang mempererat silaturahmi antarpenumpang kereta api serta yang tak kalah pentingnya untuk meraih fadhilah dan ridha Allah di bulan Ramadhan,” tambah pria asal Solo yang bekerja sebagai karyawan di sebuah anak perusahaan BUMN di kawasan Jakarta Pusat itu.
“PJKA itu memiliki slogan soko nyepur dadi sedulur dan paseduluran saklawase, artinya karena berkeretalah kami menjadi saudara sehingga oleh karena itu mari kita jaga terus persaudaraan ini selamanya.
Jadi, melalui kegiatan Takjil On The Train ini wujud persaudaraan kami bisa lebih lekat dan dekat. Dan hasilnya masya Allah, luar biasa. Ada rasa kebersamaan dan persaudaraan saat kita urunan, bersama-sama menggotong kotak makanan untuk dibagi, dan saling bercerita dan bercengkerama dengan sesama,†pungkasnya.
Keramaian Jakarta tak dapat menyembunyikan rasa sepi jauh dari anak dan istri. Melalui komunitas PJKA, para penglaju pekanan jarak jauh seperti Toni menemukan persaudaraan serta menghadirkan Tuhan. Kegiatan berbagi takjil merupakan bukti. [Fathurroji/Rus]























