Istanbul, Gontornews — Turki membantah laporan yang menyebutkan bahwa mereka telah menutup perbatasannya atau berhenti mencatat pengungsi Suriah.
Pada kesempatan konferensi pers di Istanbul, Ramazan Seçilmiş, kepala Departemen Perundingan Migrasi Ilegal di Direktorat Jenderal Manajemen Migrasi, mengatakan negara itu melanjutkan kebijakan perbatasan terbuka untuk para pengungsi dan tidak ada kebijakan deportasi paksa.
Dia mengatakan bahwa sekitar 337 ribu warga Suriah telah kembali ke negara mereka secara sukarela, setelah menandatangani perjanjian dalam bahasa Arab dan Turki.
“Mereka yang kembali secara sukarela menuju ke dua zona damai Suriah, bebas dari teror dan perang. Tidak mungkin mengirim warga Suriah ke daerah lain,” tambahnya.
Turki melakukan dua operasi lintas-perbatasan yang sukses di Suriah sejak 2016, Euphrates Shield dan Olive Branch, keduanya dimaksudkan untuk memberantas keberadaan teroris PYD/PKK dan ISIL.
Petugas itu menuturkan, ada lebih dari 547 ribu warga Suriah di Istanbul.
Dia mengatakan, ketika jumlah pengungsi di kota metropolis itu mencapai batasnya, pendaftaran baru ditutup di sini. Tetapi untuk kota-kota lain, tidak ada batasan seperti itu, dan para pengungsi bebas mendaftar.
Pejabat departemen migrasi mengatakan bahwa pengungsi Suriah dilarang bepergian tanpa izin, karena beberapa kasus telah diketahui, di mana seorang pengungsi telah terdaftar di satu kota, dan tinggal di kota lain.
Dia juga meminta para pengungsi untuk datang ke Turki melalui gerbang perbatasan yang tepat, karena ada banyak ancaman di Suriah, seperti organisasi teror PYD dan ISIL.
Pejabat pemerintah Turki lainnya mengatakan bahwa negara itu terlibat dalam menyediakan beberapa layanan kepada warga Suriah di banyak bidang seperti terjemahan, kesehatan, pendidikan dan jaminan sosial untuk meningkatkan standar hidup mereka. [RM]


















