New Delhi, Gontornews – Setidaknya 180 etnis Rohingnya terombang-ambing selama beberapa pekan di lautan setelah meninggalkan kamp pengungsian. Badan pengungsi PBB, United Nations High Comissioner for Refugee (UNHCR) mengkhawatirkan ratusan etnis Rohingya yang terombang-ambing di laut tersebut tewas selama perjalanan.
UNHCR mengatakan bahwa kapal yang biasa etnis Rohingya gunakan tidak layak untuk digunakan. Karenanya, badan PBB tersebut mengkhawatirkan kondisi kapal mengalami karam atau hilang selama di lautan.
“Kerabat kehilangan kontak,” kata UNHCR, Sabtu, 24 Desember 2022.
“Mereka yang terakhir berkomunikasi menganggap semuanya sudah mati,” sambungnya sebagaimana dilansir Reuters.
Lebih dari satu juta pengungsi Rohingya dari Myanmar tinggal di kamp pengungsian yang penuh sesak di Bangladesh. Puluhan ribu pengungsi di antarnya melarikan diri dari Myanmar setelah junta militer melakukan aksi penumpasan pada tahun 2017.
Myanmar, yang mayoritas beragama budha, tidak memberikan status kewarganegaraan bagi etnis minoritas muslim Rohingya. Mereka bahkan menganggap etnis Rohingya sebagai penyusup dan imigran gelap dari Asia Selatan.
Meski demikian, status mereka di Bangladesh juga tidak jauh berbeda karena mereka tidak memiliki akses untuk bekerja. Dengan demikian, pelaku human traficking sering memikat para pengungsi Rohingya untuk melakukan perjalanan berbahaya dengan iming-iming pekerjaan di negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia.
Para etnis Rohingya rela menantang dahaga, kelaparan, sakit, hingga terombang-ambing di perairan internasional setelah meninggalkan Bangladesh. Mereka berharap dapat menemukan makanan, pekerjaan dan tempat berlindung di wilayah lain di Asia.
Pekan lalu, dua kelompok aktivis Rohingya mengatakan, sejauh ini, 20 orang meninggal dunia karena kelaparan atau kehausan di atas kapal yang terdampar di laut selama dua pekan di lepas lantai di India. Kapal tersebut, kabarnya, membawa sedikitnya 100 orang etnis Rohingya dan sudah berada di perairan Malaysia. Awal bulan ini, angkatan laut Sri Lanka menyelamatkan 104 etnis Rohingya yang terapung di lepas pantai utara pantai Sri Lanka.
UNHCR telah mendesak negara-negara di kawasan untuk mengurangi krisis kemanusiaan yang etnis Rohingya alami. Sementara itu, para pengungsi meminta dunia untuk tidak melupakan penderitaan mereka. [Mohamad Deny Irawan]























