Ponorogo, Gontornews — Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengumumkan rekrutmen untuk posisi dosen fakultas kedokteran. Dengan demikian, pembangunan fakultas kedokteran UNIDA Gontor di Mantingan Ngawi Jawa Timur semakin terealisasi.
“Lowongan Dosen Fakultas Kedokteran. Universitas Darussalam Gontor memberikan kesempatan berkarir sebagai Dosen Tetap Fakultas Kedokteran Universias Darussalam Gontor,” ungkap pernyataan resmi UNIDA Gontor di laman unida.gontor.ac.id.
UNIDA Gontor menetapkan beberapa persyaratan umum yaitu: 1) Warga Negara Indonesia (WNI); 2) Pendidikan minimal S2 dengan bidang ilmu S1 (S1 dan S2 linier); 3) Belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN)/Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK); 4) Non-PNS; 5) Usia maksimal 58 tahun; 6) Menguasai bahasa Inggris dengan aktif; 7) Berkelakuan baik, sehat secara jasmani dan rohani, serta bebas narkoba (dibuktikan dengan surat keterangan); 8) Akreditasi Perguruan Tinggi B dan IPK minimal 3.00.
Selain itu, UNIDA Gontor juga menetapkan persyaratan khusus yaitu: 1) Memiliki pengalaman mengajar (lebih diutamakan); 2) Dokter Umum plus Magister/S2 dengan bidang keahlian: Anatomi, Biokimia, Histologi, Biologi Sel dan Molekuler, Fisiologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Patologi Anatomi, Patologi Klinik, Ilmu Biotek dan Medikolegal/Hukum Kesehatan, Farmakologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kedokteran Komunitas.

Sebelumnya, pada 6 Juni 2022, Rektor UNIDA Gontor, Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Sragen mengenai Pendidikan, Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia serta Pengabdian kepada Masyarakat.
Secara spesifik, UNIDA Gontor mengajak kerjasama Pemerintah Kabupaten Sragen yang telah memiliki Rumah Sakit dengan kualitas dan fasilitas kesehatan lengkap dengan Tipe B Pendidikan. Rumah Sakit yang dimaksud adalah Rumah Sakit Soehadi Prijonegoro Sragen (RSPP).
“Kami mohon bimbingannya mudah-mudahan kerjasama ini dapat berkelanjutan. Pendirian Fakultas Kedokteran UNIDA ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar Sragen. Di seluruh Pondok Pesantren di Indonesia tidak ada dokter. Jadi, kami ini selain untuk mengisi dokter di pesantren-pesantren juga di puskesmas-puskesmas yang tidak terisi oleh dokter,” ungkap Prof Hamid sebagaimana dilansir laman resmi Kabupaten Sragen, sragenkab.go.id.
“Untuk itu, kami berusaha mendidik anak-anak kami agar bisa terjun ke masyarakat di daerah khususnya lingkungan masyarakat Kabupaten Sragen,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















