Hanoi, Gontornews — Pemerintah Vietnam, Rabu (2/9/2021) malam, bersiap untuk menghadapi pandemi dengan rentang waktu panjang. Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, mengatakan bahwa penguncian bukan menjadi solusi seraya percepatan vaksinasi menjadi agenda strategis pemerintah.
Sebelum memasuki bulan April, Vietnam merupakan salah satu negara dengan pengendalian Covid-19 terbaik di dunia. Tetapi, masuknya varian Delta, yang sangat menular, membuat kasus positif harian di Vietnam melonjak drastis.
Pada periode tersebut, jumlah kasus positif di Vietnam melonjak dari beberapa ribuan saja menjadi 480.000 kasus positif hingga awal September. Pada periode itu pula, jumlah kematian akibat Covid-19 juga melonjak tajam mencapai lebih dari 12.000 orang.
Pemerintah Vietnam mengonfirmasi kota Ho Chi Minh City sebagai kota dengan tingkat penularan kasus tertinggi secara nasional. Pada Kamis, otoritas kesehatan Vietnam melaporkan 13.197 kasus infeksi baru dan 271 kematian.
“Kita tidak bisa menggunakan tindakan karantina dan penguncian selamanya. (Dua kebijakan) itu dapat menyebabkan kesulitan bagi masyarakat maupun ekonomi (nasional),” kata PM Chinh sebagaimana dilansir Channel News Asia.
“(Pembatasan) menyebabkan kesulitan materi dan mental kepada masyarakat,” sambung PM Chinh.
Akibat penguncian tersebut, sejumlah perusahaan ritel pemasok Nike dan Adidas, terpaksa menangguhkan produksinya. Tidak hanya itu, output industri Vietnam turun 7,4 persen dari tahun sebelumnya. Sementara ekspor turun 5,4 persen. Pun dengan penjualan ritel barang dan jasa yang anjlok hingga 33,7 persen.
PM Chinh pun menegaskan bahwa prioritas pemerintah saat ini ialah dengan mencegah kematian serta menetapkan kampanye vaksinasi sebagai langkah strategis utama.
Sejauh ini, baru 2,9 persen populasi Vietnam yang telah mendapatkan vaksin. Sementara angka kematian akibat Covid-19 di Vietnam mencapai 2,5 persen atau lebih tinggi dari rata-rata kematian global yang mencapai 2,1 persen.
“Pandemi Covid-19 berkembang dengan cara yang rumit, tidak ada yang dapat memprediksi dan dapat berlangsung lama,” tutup Chinh. [Mohamad Deny Irawan]




















