Sanaa, Gontornews — Setidaknya 17 warga sipil tewas di Provinsi Taiz, barat daya Yaman, Sabtu (29/10) akibat serangan udara yang menerjang beberapa rumah. Demikian pejabat lokal dan warga mengatakan.
Serangan itu menargetkan distrik al-Salw di mana pemberontak Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi berebut untuk menguasai wilayah itu.
Taiz merupakan kota terbesar ketiga di Yaman dengan perkiraan populasi pra-perang 300 ribu jiwa.
Para pejabat keamanan mengatakan kepada Kantor Berita The Associated Press, satu serangan udara menghantam rumah warga bernama Abdullah Abdo, menewaskan 11 anggota keluarga.
Taiz, pusat kebudayaan Yaman, telah terbelah menjadi dua bagian. Sebagian dikuasai pasukan koalisi dan sebagian pemberontak Syiah. Distrik yang diserang dekat garis depan pertempuran, dan pejabat mengatakan seringkali sulit untuk membedakan pemberontak dari pasukan pemerintah.
Tidak ada komentar segera dari koalisi, yang meluncurkan serangan militer terhadap pejuang Houthi yang didukung Iran dan sekutu mereka pada Maret tahun lalu untuk mendukung pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Pemberontak merebut ibukota Sanaa pada 2014 dan akhirnya memaksa Hadi meninggalkan Yaman.
Seorang pejabat Yaman yang setia kepada pemerintah Hadi mengatakan, dua serangan udara koalisi menghantam tiga rumah yang berdekatan.
“Semua orang di rumah itu tewas,” katanya kepada kantor berita AFP. Mereka yang tewas di antaranya anak-anak dan tujuh perempuan.
Serangan udara itu terjadi ketika Hadi, yang tinggal di pengasingan di Arab Saudi, Sabtu menolak proposal perdamaian PBB terbaru. Ia bahkan menolak untuk menerimanya saat ia bertemu mediator di Riyadh.
Isi roadmap yang dibawa utusan PBB, Ismail Ould Cheikh Ahmed, sudah disampaikan kepada para pemberontak pada hari Selasa namun belum dipublikasikan.
Menurut salinan proposal yang dilihat oleh kantor berita Reuters, rencana itu akan mengesampingkan Hadi dan membentuk pemerintahan yang kurang menggambarkan kekuatan yang sesungguhnya.
Kesepakatan yang diusulkan memberikan bagian kepada Houthi untuk ikut dalam pemerintahan masa depan sebagai kompensasi atas penarikan pasukannya dari kota-kota besar.
“Ide-ide yang dibawa … membawa benih-benih perang,” kata kubu Presiden Hadi. “Ini penghargaan untuk para pemimpin kudeta dan pada saat yang sama menghukum orang-orang Yaman.”
[Rusdiono Mukri]


















