Jakarta, Gontornews — Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Senin (28/6/2021), meminta pemerintah untuk menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rapid Antigen. YLKI menyebut HET Rapid Antigen yang mencapai Rp 250.000 terlalu mahal dan tidak terjangkau semua lapisan masyarakat.
“HET tes rapid antigen Rp 250.000 ternyata terlalu mahal. Sebab, menurut informasi yang saya peroleh, harga pokoknya hanya Rp 50.000,” kata Ketua YLKI, Tulus Abadi, sebagaimana dilansir Viva.
Tulus menjelaskan bahwa selisih harga HET dengan harga pokok terlau jauh. Ia pun menduga kondisi ini digunakan oleh sebagian pihak untuk mengeruk keuntungan demi kepentingan komersialisasi. Ia pun mendesak pemerintah untuk menurunkan harga HET agar masyarakat bisa melakukan tes secara mandiri.
“Jangan terlalu banyak ambil untung. Jangan terlalu komersialistik di tengah pandemi seperti ini. Tidak etis,” imbuh Tulus.
“Saya meminta Kemenkes mengevaluasi dan merevisi HET tes rapid antigen. Sehingga harganya lebih rasional dan terjangkau oleh konsumen.”
“BPK sebaiknya juga bisa melakukan audit HET rapid antigen tersebut,” usul Tulus.
Sebagaimana diketahui, tes rapid antigen merupakan alat pendeteksi Covid-19 yang diandalkan masyarakat Indonesia.
Pemerintah mengonfirmasi bahwa kasus aktif Covid-19 bertambah 21.342 per Ahad, 27 Juni 2021. Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 2.115.304 kasus. [Mohamad Deny Irawan]
























