Dhaka, Gontornews — Jelang penguncian (lockdown), puluhan ribu pekerja rantau berbondong-bondong meninggalkan Bangladesh, Ahad (27/6/2021). Para pekerja berdalih bahwa penguncian telah menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan.
Akibat rencana penguncian tersebut, sejumlah warga perantau di ibu kota Bangladesh, Dhaka, memutuskan untuk kembali ke desa. Meski transportasi antar kota dihentikan sejak 22 Juni, banyak warga menggunakan moda transportasi becak, sepeda motor bahkan ambulan demi dapat kembali ke kampung halaman mereka.
Selain transportasi darat, para pekerja migran juga memadati kapal feri. Bahkan, kapal Feri mengalami jam perjalanan berlebih dengan rata-rata menampung ribuan penumpang setiap perjalanan dalam 24 jam terakhir.
“Kami tidak ingin memadati feri. Tetapi, mereka tidak mendengarkan,” kata sub inspektur polisi, Mohammad Reza, sebagaimana dilansir Channel News Asia.
“Mereka menyerbu kapal selayaknya orang gila,” sambungnya.
Seorang pejabat Inland Water Transport Corporation, mengatakan bahwa setidaknya ada 50.000 penumpang yang menyeberangi sungai dengan feri sepanjang Ahad.
“Kami tidak memiliki pilihan selain meninggalkan kota,” ungkap Fatema Begum kepada AFP sambil menunggu kedatangan kapal feri.
“Selama penguncian, tidak ada pekerjaan. Jika kami tidak bekerja, bagaimana kami membayar sewa? Jadi kami mengemasi semuanya dan kembali ke desa kami,” jelasnya.
Senada dengan Fatema, Mohammad Masum, juga memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di desa ketimbang terkurung di kota akibat penguncian.
Sejak pandemi merebak, Bangladesh telah melaporkan 880.000 kasus positif dengn 14.000 di antaranya meninggal dunia. Tetapi, sejumlah ahli mengatakan angka ini bisa jauh lebih tinggi krena kemungkinan ada data yang tidak dilaporkan. [Mohamad Deny Irawan]


















