Jakarta, Gontornews — Isu upaya internasionalisasi haji di dua tanah suci, Makkah dan Madinah, seperti tak ada habisnya dipropagandakan sebagian kalangan. Akhir-akhir ini, isu tersebut kembali mencuat ke permukaan.
Berbagai kalangan pun angkat bicara, termasuk para Ulama dan Ormas Islam di Indonesia. Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Majelis Ormas Islam (MOI)—yang di dalamnya tergabung banyak Ormas Islam Indonesia—dan Persatuan Ulama & Da’i Se-Asia Tenggara juga menggelar silaturahim di kediaman Dubes Arab Saudi, Selasa (27/2) malam.
Menurut Ketua Persatuan Ulama & Da’i se-Asia Tenggara, Ustadz H. Zaitun Rasmin saat di kediaman Dubes Arab Saudi di Jakarta, isu ini sudah muncul sejak lama, khususnya pasca revolusi Iran pada 1980-an. Isu Internasionalisasi muncul lantaran propaganda Iran dan penganut ajaran Syiah atau yang pro terhadapnya.
Jika isu tersebut muncul kembali, hal itu tak terlepas dari geopolitik negara-negara teluk yang saat ini tidak stabil. Apalagi, hukuman Kerajaan Saudi terhadap Iran yang pada beberapa tahun belakangan tidak diperbolehkan untuk berhaji sementara waktu, lantaran alasan keamanan menjadi salah satu pemicunya.
Terlepas dari urusan politik, Ustadz Zaitun mengungkapkan bahwa selama ini Kerajaan Saudi tidak pernah menjadikan isu politik sebagai alasan utama dalam mengelola dua tanah suci. Pelarangan yang sempat menimpa jamaah Iran, semata-mata kata dia karena alasan keamanan. Jamaah Iran sendiri memiliki catatan buruk dalam keamanan saat pelaksanaan ibadah haji.
Pada musim haji 2015, setidaknya ada 769 orang jamaah haji wafat dan 934 mengalami luka-luka ketika jutaan jamaah haji berjalan berarak menuju jembatan Jamarat di Mina untuk Melempar Jumrah. Insiden ini merupakan yang terbesar kedua setelah peristiwa yang sama terjadi pada tahun 1990 yang menelan korban 1.426 jiwa.
Kerajaan Saudi, menurut Ustadz Zaitun, tentu akan mengizinkan siapapun untuk berziarah ke dua kota suci itu jika telah memenuhi persyaratan dan patuh pada ketentuan yang berlaku. Hal itu terbukti, kata dia, Saudi pun bisa sampai mengizinkan kalangan Syiah yang mencaci maki sahabat untuk dapat berziarah.
“Jadi jamaah Syiah ini tidak masalah (tidak dipermasalahkan Kerajaan Saudi, red). Itu (dilarang) karena ada peristiwa-peristiwa keamanan,” terang Ustadz Zaitun. [fathur]



















