Sudan, Gontornews — Sejak perang di Sudan Selatan pecah 2013 lalu, kasus kejahatan seksual terhadap anak semakin meningkat. Data Badan Internasional PBB khusus anak-anak, UNICEF, mencatat ada sebanyak 1.200 kasus kejahatan anak yang terjadi.
Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta H Fore, menjelaskan, krisis kemanusiaan yang terjadi di negara bagian Afrika tersebut telah memosisikan anak-anak dalam posisi darurat dan sangat memprihatinkan.
Ribuan anak harus meregang nyawa karena perang pasca Presiden Salva Kiir menuduh Mantan Deputi, Riek Machar, hendak merencanakan sebuah kudeta, dan sedikitnya 1.900 anak direkrut menjadi bagian dari kelompok bersenjata.
Selain itu, menurut Fore, perang juga mengakibatkan kelaparan di negara tersebut. Lebih dari 250.000 anak di Sudan Selatan berisiko meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi.
“Kami sangat khawatir, seperempat juta anak-anak di sini akan menghadapi kematian sebelum bulan Juli tahun ini,” jelas Fore dikutip Aljazeera.com.
Rasa takut yang dialami masyarakat Sudan Selatan, tidak terkecuali para petani, membuat mereka enggan untuk bercocok tanam, akibatnya tidak ada bahan makanan yang terjual di pasar-pasar. Apalagi, saat ini di negara itu sedang mengalami musim kemarau.
“Artinya hanya sedikit makanan dan minuman, malnutrisi akut yang dialami anak semakin parah,” katanya.
Belum lagi, badan-badan bantuan yang akan menyerahkan bantuan telah dipersulit oleh serangan dan pihak-pihak berseteru di negara itu. Tahun lalu saja, sebanyak 28 pekerja kemanusiaan tewas akibat serangan-serangan senjata dalam perang tersebut.
Saat ini pihaknya terus mengupayakan agar bantuan, khususnya makanan dapat masuk ke wilayah-wilayah yang berdampak perang. Sehingga ratusa ribu anak yang terancam meninggal dunia dapat diselamatkan. [Devi Lusianawati]
























