Madrid, Gontornews — Angka penularan COVID-19 di Spanyol terus meningkat melampaui kasus serupa yang terjadi di Cina. Pemerintah Spanyol mengonfirmasi total 85.195 kasus COVID-19 atau melewati angka kasus di Cina yang βhanyaβ 81.470 kasus. Sementara korban tewas di Spanyol mencapai 7.340 terhitung Senin (30/3).
Pemerintah Spanyol telah memberlakukan lockdown dengan ketat dalam tiga minggu terakhir. Kalangan pebisnis di Spanyol pun mengkritik kebijakan tersebut. Menurutnya, pelarangan semua pekerja secara nasional dapat melumpuhkan industri manufaktur hingga pariwisata.
βJika anda menghentikan negara, kami akan memiliki masalah sosial besar dalam lima bulan ke depan,β ungkap Presiden Asosiasi Pebisnis di Spanyol, Antonio Garamendi, kepada Reuters.
Meski demikian, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Spanyol, Maria Jose Sierra mengatakan aturan lockdown ketat yang diberlakukan oleh Spanyol membuahkan hasil. Peningkatan infeksi harian menurun hingga 12 persen secara rata-rata dalam lima hari terakhir atau 20 persen dalam 10 hari sebelumnya.
Pemerintah Spanyol juga melakukan pengheningan cipta kepada korban tewas akibat COVID-19. Lagu Adagio for Strings karya Samuel Barber menggema di seantero kota di Spanyol. Sementara bendera regional, bendera nasional dan bendera Uni Eropa dikibarkan setengah tiang.
Pemerintah juga akan memberlakukan batasan harga pemakaman menyusul masuknya laporan yang mengatakan harga pemakanan meningkatan karena tingginya permintaan.
Pada awal bulan ini, Spanyol mengeluarkan kebijakan paket ekonomi senilai 200 miliar euro atau setara 3.602 triliun rupiah. Paket ekonomi tersebut dimaksudkan untuk menstimulus sektor ekonomi yang anjlok akibat COVID-19.
Melalui paket kebijakan ekonomi itu pula, pemerintah bersiap untuk membantu kelompok rentan dan pengangguran untuk menangguhkan sewa mereka. [Mohamad Deny Irawan]






















