London, Gontornews — Otoritas kesehatan Inggris memperingatkan peningkatan angka kematian COVID-19 dalam beberapa pekan mendatang. Direktur pelayanan medis nasional, Stephen Powis, menegaskan, bahwa sekalipun Inggris menerapkan Lockdown, angka kematian akan terus melonjak.
“Dengan sangat sedih, (kami sampaikan) jumlah kematian akan terus meningkat,” kata Stephen Powis di Downing Street, sebagaimana dilansir Reuters.
“Sayangnya, kemungkinan itu akan berlanjut pada satu atau dua minggu ke depan hingga kita menjadi yang teratas dalam menghentikan virus ini,” imbuhnya.
Sejauh ini, Pemerintah Inggris memberlakukan penguncian total dalam secara meluas dalam 14 hari mendatang dengan opsi perpanjang di minggu ketiga. Pemerintah menutup pub, restoran, dan sejumlah toko di Inggris. Pemerintah pun menginstruksikan warganya untuk tetap tinggal di rumah kecuali untuk kebutuhan yang mendesak.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet, Michael Gove, berulang kami menolak untuk menjawab pertanyaan seputar kapan aturan lockdown akan dicabut. Gove menjelaskan bahwa pemerintah akan mencabut hal tersebut jika semua orang mematuhi aturan yang ada.
“Jika kita melonggarkan kepatuhan kita terhadap aturan, artinya kita meningkatkan risiko (penyebaran virus) bagi orang lain,” kata Gove.
Sejauh ini, Inggris melaporkan 708 kasus kematian akibat COVID-19 dalam 24 jam terakhir. Yang terbaru, seorang anak berusia 5 tahun dengan riwayat masalah kesehatan sebelumnya meninggal dunia akibat COVID-19. Sementara, 40 kasus kematian lainnya terjadi tanpa memiliki masalah kesehatan sebelumnya.
Powis menambahkan bahwa puncak angka kematian di Inggris bisa terjadi pada Ahad, 12 April 2020. Setelahnya, Powis memprediksi stabilitas angka kematian atau penularan COVID-19.
Powis juga menjelaskan bahwa permintaan rumah sakit di London meningkat drastis dalam beberapa waktu terakhir. Sebuah rumah sakit di Midlands misalnya, melaporkan ada 41.903 dari 183.190 warga yang positif COVID-19. [Mohamad Deny Irawan]





















